Seni Meningkatkan Keterampilan Membaca | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Seni Meningkatkan Keterampilan Membaca


Kategori: Artikel

Beberapa psikolog pendidikan prihatin melihat anak, remaja, maupun orang dewasa yang mengalami kesulitan dalam mengerti isi bacaan. Oleh sebab itu, mereka mengadakan penelitian dan menemukan beberapa program untuk meningkatkan kemampuan mengerti isi bacaan secara utuh. Salah satu program tersebut adalah Program Identifikasi Tema (PIT). PIT terdiri dari 12 pelajaran dan tiap pelajaran berisi satu cerita. Adapun langkah-langkah pengajaran PIT adalah sebagai berikut:

  1. Diskusi awal mengenai tujuan pelajaran dan topik cerita.
  2. Membaca cerita.
  3. Diskusi informasi alur cerita dengan menggunakan metode bertanya.
  4. Identifikasi tema dari bacaan dan membuat kesimpulan yang relevan dengan berbagai situasi yang bervariasi.
  5. Menerapkan tema yang sudah disimpulkan dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Melakukan aktivitas, berupa bermain peran sesuai dengan tokoh cerita dengan memakai kata-kata mereka sendiri, menggambar sesuai dengan tema bacaan, dan membuat lagu rap [percakapan tunggal atau monolog yang dilakukan secara berirama dengan diiringi musik, Red.] dan menyanyikannya.

Program identifikasi tema ternyata mampu meningkatkan kemampuan memahami bacaan pada remaja yang mengalami kesukaran belajar.

Ada beberapa hal yang menyebabkan PIT berhasil meningkatkan pemahaman bacaan, yaitu:

  1. PIT membantu remaja mempelajari aspek-aspek dari tema, yaitu konsep tema dan penemuan tema itu sendiri. Proses penemuan tema dapat ditransfer untuk memahami bacaan naratif yang lain. Jadi terjadi transfer belajar.
  2. Tiap bahan bacaan hanya mengandung satu tema yang jelas dan tidak mudah mengundang penafsiran yang berbeda-beda.
  3. PIT mudah dilatihkan dan dipraktikkan oleh guru-guru di sekolah. Hanya dalam waktu relatif singkat, PIT dapat dilatihkan kepada guru-guru yang baru memiliki pengalaman mengajar kira-kira 1-2 tahun.
  4. Murid-murid berpendapat bahwa PIT adalah program yang bermanfaat dan menyenangkan, sehingga mereka sangat antusias mengikutinya.

Ada beberapa program yang dapat digunakan oleh orang tua untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan pada anak-anak yang mengalami kesukaran mengerti isi bacaan, yaitu:

  1. Anak-anak akan terbantu bila ayah dan ibu mau menolong mereka untuk mengingat peristiwa dalam bacaan, mengidentifikasi hubungan antar gagasan, dan mengonstruksi struktur cerita dengan metode bertanya, memberi contoh dan membuat jaringan gagasan.
  2. Orang tua mendeskripsikan hubungan antara pengetahuan awal anak dengan isi bacaan, dengan cara bertanya kepada mereka untuk menjelaskan, menyimpulkan atau membuat prediksi selama membaca, dan memberikan pertanyaan agar anak dapat membuat kesimpulan sendiri setelah membaca.
  3. Aspek penting untuk menguasai dan menggunakan kerangka pikir membaca naratif dan ekspositori maupun strategi membaca adalah kemampuan untuk memantau pemahaman yang telah didapat. Orang tua dapat meningkatkan kemampuan pengawasan dengan cara aktif membuat ringkasan, sehingga anak-anak menjadi sadar akan kesulitan memahami bacaan yang dimiliki. Berawal dari kesadaran ini, mereka akan peduli untuk mengatasi kesukaran memahami bacaan, dengan berulang kali memantau seberapa jauh mereka telah memahami bacaan. Keterampilan meringkas di samping dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan, juga dapat untuk meningkatkan kemampuan membedakan informasi yang penting dengan yang tidak penting.

Pengertian terhadap isi bacaan akan membuat seseorang lebih bergairah dalam aktivitas membaca. Pengertian itu jugalah yang akan membawa seseorang kepada kesadaran yang tertinggi, sehingga mampu membingkai ulang pengalaman hidupnya dan menjadi lebih manusiawi, bahagia, serta holistis dalam menjalani kehidupan ini.

Sejak tahun 1984, Palincsar dan Brown -- psikolog pendidikan yang fokus pada progam membaca, menemukan metode mengajar resiprokal untuk menolong meningkatkan kemampuan mengerti isi bacaan pada anak-anak. Metode mengajar resiprokal adalah strategi mengajar membaca berdasarkan prinsip membuat pertanyaan dan mengajarkan keterampilan metakognitif melalui instruksi yang jelas, dengan guru sebagai model untuk memperbaiki kesulitan memahami bacaan pada siswa dengan prestasi belajar rendah. Metode ini menggunakan pendekatan kelompok kecil, yaitu sekitar lima sampai dengan tujuh anak dalam satu kelompok. Prinsip utama mengajar resiprokal adalah belajar membuat pertanyaan dan menjawab dengan tepat. Adapun proses mengajar resiprokal adalah pertama kali guru berfungsi sebagai model dengan membuat pertanyaan untuk dijawab oleh siswa, kemudian secara bertahap siswa diminta untuk membuat pertanyaan sendiri dan berfungsi sebagai guru, ia meminta teman-temannya untuk menjawab pertanyaan. Metode mengajar resiprokal ternyata dapat meningkatkan kemampuan mengerti isi bacaan pada anak-anak, dan akhirnya dapat memperbaiki prestasi belajar mereka. Ada beberapa alasan mengapa mengajar resiprokal dapat meningkatkan kemampuan memahami bacaan pada anak-anak. Beberapa alasan tersebut adalah, siswa menjadi terlatih menemukan gagasan yang penting dari bacaan untuk dirumuskan menjadi pertanyaan, mereka terlatih membuat ringkasan, membuat prediksi, membuat klarifikasi informasi, dan terlatih juga untuk memusatkan perhatian.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama majalah : Berita GKMI, Edisi Oktober 2009/No. 505/Tahun XLII
Penulis : Pdt. Charles Christano
Penerbit : Berita GKMI
Halaman : 13 -- 18

Komentar