RSS Pelitaku | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

RSS Pelitaku

Syndicate content
Updated: 26 weeks 6 days ago

Lebay Alias Lewah

14 May, 2018 - 10:19

Sudah lama juga rupanya, bahasa kadang tanpa disadari dipakai secara berlebihan. Beberapa contoh sederhana: “naik ke atas”, “turun ke bawah”, “berbisik pelan”, “berteriak keras-keras”. Padahal jelas, sudah cukup naik, turun, berbisik, atau berteriak saja.

Dahulu, kasus kebahasaan semacam itu, yaitu pemakaian bentuk lewah atau mubazir, mendapat stigma salah kaprah. Inilah, menurut pandangan dahulu, kesalahan subversif yang sudah sedemikian meluas dan teramat sering muncul sehingga tidak lagi terasa keliru. Dengan demikian, “gejala tidak sehat” ini perlu, bahkan mesti, diberantas atau setidaknya diluruskan -- seolah-olah dengan kasus lewah itu, bahasa kita jadi ripuk.

Perbincangan pendek ini bukan bermaksud mengulang soal usang tersebut sembari tidak ingin tergesa-gesa menganggap semua bentuk seperti itu salah, subversif, apalagi sampai tidak termaafkan.

Dua alasan mengapa kita tidak perlu ikut-ikutan memberi stigma salah secara sepihak. Pertama, sudah lama kita mengenal gaya bahasa yang umurnya saya kira setua bahasa, setua umat manusia. Gaya bahasa adalah siasat, muslihat dalam berbahasa demi mendapatkan efek tertentu. Ini amat lazim dalam ragam bahasa sastra, tetapi tidak khusus menjadi milik atau hak kalangan sastrawan. Keempat contoh kasus di atas bisa saja kita anggap sebagai gaya yang bermaksud mempertegas, mengeraskan kata kuncinya. Efek yang sampai kepada kita bukan saja kadar intensitas yang lebih besar, melainkan juga pemahaman yang lebih luas, lengkap, dan lebih jelas.

Kedua, benar belaka bahwa bentuk lewah dalam tanda kurung berikut dapat dibuang tanpa mengubah arti: naik (ke atas), turun (ke bawah), berbisik (pelan), berteriak (keras-keras). Dua kata kerja yang pertama, “naik” dan “turun”, sudah menunjukkan arah tertentu yang dapat dimengerti dengan jelas. Dalam hal itu, volume suara orang berbisik sudah pasti pelan, dan suara berteriak tentu keras. Saya bertanya, di mana persisnya letak kesalahan pemakaian bentuk-bentuk lewah dalam tanda kurung di atas? Lewah itu salah?

Dalam tata makna atau semantika, masing-masing dari keempat kata tadi, sudah saya katakan, menyertakan makna lain secara implisit dalam dirinya. Dan, kesertaan makna atau pengertian lain itu niscaya. Pada empat contoh di awal tulisan, naik sudah menyertakan pengertian ke atas, dan seterusnya. Ini agak mirip dengan kata “sering”, yang bermakna banyak kali atau berkali-kali, tetapi tidak jarang masih juga ditambah kata kali: sering kali. Atau, kata “duda”, yang menyertakan pengertian berjenis kelamin laki-laki (tetapi tidak pernah kita jumpai “duda lelaki”).

Bagi saya, lewah pada dua contoh terakhir di atas agak berbeda dari lewah pada empat contoh kasus sebelumnya. Dua bentuk lewah ini tidak punya alasan yang cukup untuk berada di sana. Dan, tidak kita rasakan ada efek tertentu dalam penerapan, yaitu pertanda bahwa bentuk pengucapan itu tergolong gaya bahasa. Lewah macam ini rasanya lebih tepat kita sebut lebay.

Diambil dari: Judul buku : KOMPAS Penulis : Eko Endarmoko, Penyusun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Terbit : Sabtu, 2 September 2017 Topik: Kaidah dan Pemakaian Bahasae-Penulis 201/Mei/2018

Allah Menjadikan Anda Seorang Penulis

14 May, 2018 - 10:16

Sebuah undangan untuk setiap orang Kristen.

Injil Kristen punya cara untuk menjadikan kita penulis dengan jalan, bentuk, atau wujud tertentu. Mulai dari SMS, email, dan catatan tertulis sampai warta gereja, surat dukungan untuk para misionaris, blog, artikel, dan bahkan buku, setiap hari, orang Kristen banyak menulis, dan kemungkinan Anda juga.

Kekristenan adalah keyakinan yang berpusat pada kata. Allah kita menciptakan dunia lewat firman (kata yang keluar dari Tuhan) (lih. Ibrani 11:3; Kejadian 1 memberi tahu kita “Berfirmanlah Allah” sebanyak sepuluh kali), dan seperti halnya ketika Dia berfirman, “Jadilah terang,” demikian pula Dia menciptakan iman kita dari kata-kata-Nya (lih. 2 Korintus 4:6). Anak Allah sendiri disebut Firman (lih. Yohanes 1:1). Selain itu, iman kita itu sendiri ditopang oleh “firman Kristus”, pesan dari Injil (lih. Roma 10:13), dan pelayanan lewat kata-kata yang sedang berlangsung dalam kehidupan gereja.

Kekristenan bukanlah iman yang diam, melainkan iman yang bersuara keras, penuh dengan kata-kata.

Tulis dan Salah (Dalam sumber aslinya berbunyi Write and Wrong yang berima dengan Right and Wrong - Red.)

Oleh karena itu, kegiatan menulis, seberapapun formal atau informalnya, bukanlah hak istimewa segelintir pembesar orang Kristen yang berbakat saja, melainkan ajakan bagi setiap orang percaya. Seperti halnya kita tidak bisa tidak mengekspresikan kepada orang lain tentang kemuliaan Allah dan karya-Nya melalui perkataan lisan, kita juga bisa memanfaatkan sederet teknologi hebat yang memungkinkan kita berkomunikasi lewat tulisan. Jika dipahami secara luas, lebih banyak orang Kristen adalah penulis daripada yang mereka pikirkan, bahkan jika itu hanya dipraktikkan dalam surat-menyurat pribadi.

Entah Anda menganggap diri Anda penulis atau bukan (dan secara keseluruhan, mungkin akan lebih baik jika lebih sedikit orang yang berpikir demikian!), saya ingin menyampaikan undangan Allah kepada Anda untuk menemukan cara-cara Anda menyatakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar (lih. 1 Petrus 2:9) dalam kata-kata tertulis.

1. Orang Kristen menulis karena Allah menulis.

Allah berfirman, maka kita berbicara. Allah menulis, maka kita menulis -- bukan untuk menutupi firman Allah, melainkan untuk menerangkannya, menjelaskannya, merayakannya, dan menawarkannya kepada orang lain. Paulus menulis untuk Timotius, muridnya, demikian:

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:15-17)

Perkataan tersebut merupakan dorongan sekaligus tantangan bagi penulisan Kristen. Dorongannya adalah bahwa “Alkitab ... bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Allah mengatakan kepada umat-Nya bahwa mereka boleh mendengar, tetapi bukan hanya menjadi pendengar. Allah ingin kita menerapkan firman-Nya. Firman-Nya itu bermanfaat untuk tindakan-tindakan kita -- untuk perkataan-perkataan kita.

Allah berfirman dalam perkataan tertulis-Nya, dan jika kita mendengarkan, kita juga akan punya sesuatu untuk dikatakan dan untuk ditulis. Tantangannya adalah untuk tetap berada di jalur yang benar. Jika perkataan pengajaran, teguran, perbaikan, dan didikan kita terputus dari firman Tuhan, kita akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi. Ini menimbulkan pertanyaan yang sering muncul di benak orang Kristen selagi menulis, “Apakah saya setia pada firman Tuhan dalam perkataan saya?” Kita ingin menjadi bagian dari pihak yang berbahagia, yang berhati nurani murni bersama dengan Rasul Paulus yang berkata,

“Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” (2 Korintus 2:17)

“Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.” (2 Korintus 4:2)

Baik pendeta maupun orang awam, mengajar atau menulis, kita ingin melakukan yang terbaik untuk mempersembahkan diri sendiri “di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15).

2. Tulisan Kristen tidak selalu diterbitkan.

Kenyataan penting yang harus ada dalam pikiran kita, khususnya pada suatu hari ketika tidak mudah untuk menerbitkan tulisan kita kepada dunia, adalah bahwa menulis tidak sama dengan menerbitkan. Menulis jurnal atau menulis catatan pribadi untuk pasangan atau keluarga dan menulis untuk dibaca orang banyak secara daring atau di tempat lainnya adalah dua hal yang berbeda.

Penerbitan Kristen, baik cetak maupun daring, adalah pelayanan umum. Mungkin, Anda tidak pernah berpikir demikian karena kegiatan menulis biasanya dilakukan seorang diri, di luar sorotan. Namun, ketika kita menerbitkan apa yang telah kita tulis, kita sedang melakukan pelayanan Kristen umum. Ini adalah suatu panggilan untuk dilaksanakan dengan sukacita yang besar.

3. Penerbitan Kristen melayani orang lain, bukan diri sendiri.

Penerbitan Kristen, secara mendasar, berbeda dengan jurnal pribadi. Sering kali, membuat jurnal yang baik utamanya (atau malah pasti) ditujukan kepada diri sendiri. Namun, jenis-jenis tulisan yang lain, dan khususnya penerbitan, bukanlah ekspresi diri semata, melainkan untuk melayani.

Penulisan Kristen, dalam hal ini, merangkul semangat 2 Korintus 4:5, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.” Allah mengembuskan firman-Nya bagi kita dalam Kitab Suci sehingga kita dapat “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:17).

Tulisan Kristen -- baik secara pribadi kepada teman dan keluarga, maupun secara umum di media cetak atau daring -- mempunyai tujuan. Firman Tuhan dalam Kitab Suci melengkapi kita untuk pekerjaan baik dalam pelayanan kasih kepada orang lain. Penulisan Kristen bukan sekadar pelepasan eksistensial, melainkan suatu tindakan kasih. Itu bukanlah jurnal pribadi yang diterbitkan untuk mengundang perhatian dan kekaguman untuk diri sendiri, melainkan pengorbanan kasih -- seperti mematikan diri -- untuk menulis, tidak hanya seperti yang kita inginkan, tetapi juga dengan cara sedemikian rupa sehingga orang lain terbantu demi kemuliaan Yesus.

4. Tulisan yang membosankan berbohong tentang Allah.

Undangan untuk menulis bukanlah hal yang mudah. Kegiatan menulis itu sendiri tidak semudah kedengarannya, dan penulisan Kristen (supaya bermanfaat bagi orang lain, bukan hanya pengekspresian diri) akan lebih sulit lagi. Seperti halnya kita tidak boleh berbohong tentang Allah dan dunia ciptaan-Nya secara teologis, hal yang sama juga berlaku secara emosional. Tulisan yang membosankan tentang Allah berbeda tipis dengan penghujatan. Ketika kita sendiri tidak benar-benar tersentuh sehingga dengan tulisan yang membosankan kita tidak menyentuh orang lain tentang kebenaran yang mengagumkan di seluruh jagat raya, kita berbohong tentang Allah. Jadi, ketika kita menulis sebagai orang Kristen, kita berusaha untuk membuatnya menarik dan secara tepat menimbulkan gairah untuk memperbarui gairah.

Kemudian, ketika kita seperti kehabisan ide, kita punya penghiburan dan kepastian yang besar ini: kita tidak ditinggalkan sendiri untuk membuatnya dari nol. Kita tidak harus menjadi yang pertama memulainya; sesungguhnya, kita memang tidak bisa. Allah telah berfirman lebih dahulu. Orang Kristen yang mengenali dirinya sebagai “penulis” bisa berbicara tentang menjadi “orang kreatif”, tetapi kita tahu bahwa kasusnya tidak selalu seperti itu. Lebih tepatnya, kita adalah orang-orang “subkreatif”, meminjam konsep dari Tolkien. Kita berusaha menemukan pendekatan-pendekatan baru untuk merumuskan kebenaran-kebenaran yang sudah ada sejak dahulu. Kita mengeluarkan energi untuk mencari cara-cara baru untuk menyampaikan cerita yang benar-benar tua.

5. Firman Tuhan tidak hanya menuntun kita, tetapi juga memberi makan jiwa kita.

Ini adalah berita yang sangat baik bagi para penulis Kristen bahwa ketika kita merasa kosong, kita punya tempat untuk pergi dan mengisi ulang kembali: firman Tuhan itu sendiri.

Posisi Alkitab dalam tulisan kita bukan hanya bersifat umum, untuk para pembaca kita, tetapi juga bersifat pribadi, untuk jiwa kita sendiri. Firman Tuhan tidak hanya aktif melayani pelayanan menulis secara pribadi atau yang diterbitkan dengan bekerja melalui kita, tetapi Ia juga menghasilkan “manusia kepunyaan Allah ... lengkap” (2 Timotius 3:17) dengan bekerja di dalam kita.

Pertama, firman Tuhan melayani kita. Sebelum firman Tuhan bekerja melalui kita sebagai penulis, firman itu bekerja dalam kita sebagai orang Kristen. Lalu, Roh Kudus mempunyai cara-Nya untuk mendorong kita menggoreskan bolpoin pada kertas dan meletakkan jari-jari pada tombol-tombol papan ketik, dengan berbagai macam cara, bentuk, dan wujud kita.

David Mathis (@davidcmathis) adalah editor eksekutif desiringGod.org dan pendeta di Cities Church, Minneapolis. Dia adalah seorang suami, ayah empat anak, dan penulis buku Habits of Grace: Enjoying Jesus through the Spiritual Disciplines. (t/Yoel)

Audio Allah Menjadikan Anda Seorang Penulis

Diterjemahkan dari: Nama situs : desiringGod Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/god-made-you-a-writer Judul renungan : God Made You a Writer Penulis artikel : David Mathis Tanggal akses : 8 November 2017 Tip MenulisTopik: Tips dan Trik Menulise-Penulis 201/Mei/2018

Menulis Kebenaran, Menerangkan Kebenaran

14 May, 2018 - 10:14

DARI REDAKSI
Menulis Kebenaran, Menerangkan Kebenaran

Pernahkah Sahabat memikirkan apa pandangan Allah tentang menulis? Seorang penulis buku sekaligus editor eksekutif sebuah situs Kristen terkenal, David Mathis, mengatakan bahwa orang Kristen menulis karena Allah menulis. Allah menulis, maka manusia menulis. Allah tidak ingin menutupi firman-Nya, tetapi ingin menerangkannya. Allah juga ingin kita menerapkan firman-Nya.

Ternyata, menulis merupakan kegiatan yang dipandang Allah sebagai kegiatan yang baik dan berguna. Marilah kita meneruskan hal baik ini dengan menuliskan kebenaran-Nya. Kiranya sajian kali ini menjadi berkat bagi Sahabat semuanya. Selamat membaca.



Pemimpin Redaksi e-Penulis,
Santi T.

Dari RedaksiTopik: Dari Redaksie-Penulis 201/Mei/2018

Harriet Beecher Stowe (1811 -- 1896)

17 April, 2018 - 10:12

Salah satu dari novelis wanita pertama terbesar asal Amerika, Harriet Beecher, lahir dan tumbuh dewasa di Litchfield, Connecticut, tempat ayahnya menjadi seorang pendukung yang kukuh dari ortodoksi Calvinistik.

Pada usia 14 tahun, gadis kecil ini melakukan konversi religius ke kekristenan yang konservatif dan tegas, yang sedikit banyak hasil analitisnya memberi alasan bahwa dia masih sangat berminat pada isu mengenai agama sepanjang hidupnya. Karya-karya pertamanya, The Mayflower, muncul pada 1843. Sementara itu, dia menikah dengan kolega ayahnya, Pendeta Calvin E. Stowe, seorang laki-laki terpelajar dan baik hati, dan pindah ke Ohio, tempat dia adakalanya berjumpa dengan seorang budak buronan yang ingin lepas dari perbudakan.

Harriet Beecher Stowe kembali ke New England pada 1850, sama halnya topik Hukum Budak Buronan (Fugitive Slave Law) yang adalah pokok diskusi terpanas di Amerika Serikat, Harriet memahami gagasan dari seorang warga Amerika keturunan Afrika yang sudah tua dan sekarat akibat cambukan, tetapi memaafkan penyiksanya, yang kemudian menjadi benih dan klimaks dari novel Uncle Tom's Cabin. Novel yang disusun dengan emosi yang keras ini dicetak sebagai serial dalam The National Era pada 1851 -- 1852, dan seketika diterbitkan dalam bentuk buku. Di negara bagian utara dari Mason-Dixon Line, 300.000 salinan novel ini terjual dalam satu tahun. Di Inggris, tempat karya-karya dibajak secara keseluruhan, penjualannya mencapai 1,5 juta salinan.

Harriet Beecher Stowe menjadi sensasi dalam semalam. Ketika mengunjungi England, dia menerima suatu sambutan dengan tepuk tangan dan sorak-sorai yang belum pernah terjadi. Untuk menjawab serangan tentang keakuratan novelnya, Harriet Beecher Stowe dengan tergesa-gesa menyusun A Key to Uncle Tom's Cabin (1853), adalah "tidak cukup yang sesungguhnya" yang diiklankan seperti berisi sumber dari yang mana ia berkarya. Sebuah novel antiperbudakan kedua, Dred (1856), dikerjakan untuk menunjukkan efek perbudakan yang jahat atas pemilik perkebunan. Buku ini tidak diciptakan dengan kegembiraan yang menemani penerbitan novel propagandanya yang pertama.

Meskipun demikian, perang suci melawan perbudakan terus tumbuh dan bergerak, tetapi Harriet Beecher Stowe tidak membuat kontribusi lebih lanjut kepada penyebabnya. Sebagai gantinya, dia menggali kembali minat awalnya dalam fiksi yang mengangkat kehidupan sehari-hari di New England. The Minister's Wooing (1859), The Pearl of Orr's Island (1862), Oldtown Folks (1869), dan Poganuc People (1878) menempatkan dirinya dalam kedudukan utama rombongan realis baru dari Inggris. Meskipun tidak pernah mencapai status best-seller (laris), novel-novel ini berisi tulisan paling brilian yang pernah dibuat oleh Harriet Beecher Stowe.

Sepanjang 30 tahun terakhir masa hidupnya, dia tetap menulis artikel religius untuk jurnal dan majalah.

Dalam sejarah fiksi, Stowe adalah suatu pertanda generasi yang berikutnya penulis "warna lokal". Namun, pemimpinnya mengakui ketenaran dari karya nonkompromi untuk hak-hak manusia dan membantu untuk mengakhiri perbudakan.

Diambil dari: Judul buku : Pustaka Pintar 100 Penulis yang Membentuk Sejarah Dunia Editor : Karyani Penerbit : Progres, Jakarta 2005 Halaman : 114 -- 116 Tokoh PenulisTopik: Biografi Penulis Terkenale-Penulis 200/April/2018

Kualitas Seorang Penulis Kristen

17 April, 2018 - 09:53

Menurut Anda, kualitas apa saja yang dibutuhkan oleh seorang penulis Kristen? Dalam hal ini, saya tidak hanya memikirkan karya yang khusus mengandung konten kristiani, tetapi karya apa pun yang ditulis oleh seorang Kristen untuk dilihat publik. Bisa saja novel, buku nonfiksi, puisi, renungan, tulisan blog, maupun materi lain yang tidak terhitung banyaknya. Berikut ini, beberapa hal untuk dipertimbangkan.

1. Sikap hati.

Apa motivasi Anda dalam menulis? Apakah untuk memuliakan Allah dan membawa orang lain lebih dekat kepada-Nya? Seperti yang telah disinggung di atas, tidak berarti segala sesuatu yang Anda tulis harus mengandung konten kristiani secara eksplisit, tetapi itu harus sejalan dengan cara pandang kristiani. Allah memberi kita kemampuan untuk suatu tujuan.

2. Kehidupan saat teduh Anda.

Apakah Anda menghabiskan waktu yang berkualitas dengan Allah? Apakah Anda mempelajari Kitab Suci secara teratur? Bagaimana dengan kehidupan doa Anda? Anda harus memiliki persediaan air di dalam sumur Anda sendiri untuk dapat membagikannya kepada orang lain.

3. Tanggung jawab seorang pengajar.

Apabila Anda memiliki kerinduan untuk mengajarkan firman Allah kepada orang lain, pastikan Anda mengetahuinya dengan baik. Pelajari, doakan, mintalah penyingkapan dan inspirasi dari Allah, bacalah tafsiran. Allah meminta pertanggungjawaban para pengajar berdasarkan apa yang mereka ajarkan (Yakobus 3:1).

4. Integritas.

Apakah Anda menerapkan yang Anda ajarkan? Memang, tidak ada orang yang sempurna, tetapi jangan harap kita dapat membantu orang lain mengikut Allah secara lebih dekat jika kita sendiri tidak berusaha menjadi makin serupa dengan-Nya.

5. Kejujuran

Sering kali, kita tersentuh saat membaca kisah-kisah yang jujur dari orang yang pernah mengalami pergumulan dalam berbagai hal. Akan tetapi, Anda perlu membayar harga emosional untuk mengungkapkan diri Anda apa adanya. Bila Anda memiliki kisah pribadi mendalam yang pernah menyebabkan Anda terluka, hal itu layak dibagikan sehingga dapat membantu orang lain. Namun, mintalah hikmat Allah untuk mengetahui seberapa banyak yang harus diceritakan, kepada siapa, dan kapan waktu yang tepat.

6. Kesabaran

Terkadang, ada jeda waktu yang panjang antara mengirimkan karya Anda dan menerima balasan berupa pernyataan diterima atau ditolak. Sebagian jurnal dan majalah mencantumkan jeda waktu tersebut dalam situs mereka. Tunggulah lebih lama daripada waktu yang tertera itu. Bila Anda belum mendapat balasan juga, Anda dapat mengirimkan pertanyaan. Kadang, Anda tidak akan pernah menerima jawaban. Ketika karya Anda diterima, juga akan ada tenggang waktu lama sebelum tulisan Anda benar-benar terbit. Menunggu adalah bagian dari permainan.

7. Ketekunan (Lukas 8:15).

Siapa pun yang berusaha menerbitkan tulisannya akan menerima surat penolakan (mungkin ratusan penolakan). Para penulis terkenal juga mengalaminya. Mungkin Anda telah menulis karya yang sangat baik, tetapi ditolak karena ada ratusan kiriman dan penerbit hanya memilih sepuluh, penerbit sudah pernah menerbitkan karya sejenis, atau karya Anda berbeda gaya dengan tipe yang biasa mereka pilih, atau ... itu memang tidak terlalu bagus. Jika persoalannya adalah yang terakhir, ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkannya. Namun, kadang itu hanya soal memoles dan mengirimnya ke penerbit lain. Jangan menyerah. Ketekunan sangat penting bila Anda ingin melihat karya Anda diterbitkan (bdk. 2 Petrus 1:5-8).

8. Kerendahan hati.

Jangan anggap remeh awal yang kecil (bdk. Zakharia 4:10). Semua orang ingin artikelnya diterbitkan di majalah terkenal yang dibaca jutaan orang. Di samping itu, sangat menyenangkan rasanya menerima honor dari karya Anda. Namun, sudah menjadi hukum alam bahwa majalah terkenal yang memberi bayaran besar juga menarik paling banyak jumlah pengirim. Anda berada dalam kolam yang jauh lebih besar dengan lebih sedikit kesempatan diterima. Jangan takut memulai dengan yang kecil. Meskipun hanya satu paragraf dicetak dalam buletin gereja, Anda telah menjangkau setidaknya 100 orang atau lebih.

9. Hati yang mau diajar.

Anda tidak pernah berhenti belajar dan bertumbuh selagi masih berada di dunia (Filipi 1:6). Anda perlu terbuka pada dorongan Roh Kudus ketika sedang menulis. Anda harus dapat menerima saran dari orang lain dengan rela hati dan membedakan masukan mana yang perlu dilakukan.

Saya juga berharap memiliki semua kualitas yang disebutkan tadi. Sebenarnya, saya sendiri juga masih berjuang dalam banyak hal, tetapi tidak masalah. Semua itu adalah bagian dari proses belajar. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan hal-hal tersebut? Poin mana yang masih Anda gumuli? Apakah Anda memiliki kualitas lain yang menurut Anda dapat ditambahkan ke dalam daftar? Saya akan senang mendengar pendapat Anda. (t/Joy)

Audio Kualitas Penulis Kristen

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christian Writers Downunder Alamat situs : http://christianwritersdownunder.blogspot.co.id/2015/02/qualities-of-christian-writer-by-nola.html Judul asli artikel : Qualities of a Christian Writer Penulis artikel : Nola Passmore Tanggal akses : 6 Desember 2017 Tip MenulisTopik: Tips dan Trik Menulise-Penulis 200/April/2018

Kualitas Penulis Kristen

17 April, 2018 - 09:51

Penulis Kristen yang berkualitas tidak hanya ditentukan dari karyanya yang memuat konten kristiani, tetapi juga dari kehidupannya, baik spiritual, sikap, maupun karakter-karakter baik yang dimilikinya. Edisi e-Penulis bulan ini menyajikan beberapa poin penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis Kristen supaya karya dan kehidupannya saling berpadanan dan bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Perluas juga wawasan Sahabat dengan membaca biografi seorang penulis novel terkenal dari Amerika, Harriet Beecher Stowe, yang akan menginspirasi Anda. Sebuah resensi buku Dari Remaja untuk Orang Tua karya Bill Sanders juga akan memberi informasi menarik bagi Sahabat yang sedang mencari buku untuk menolong orang tua dan remaja yang sedang bermasalah. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.



Pemimpin Redaksi e-Penulis,
Santi T.

Dari RedaksiTopik: Dari Redaksie-Penulis 200/April/2018

Seputar Penulis Kristen

12 March, 2018 - 15:16

1. Penulis Kristen

Penulis Kristen telah menerima suatu tugas yang di luar kemampuan terbaiknya, dan ia telah mendedikasikan dirinya untuk menyelesaikan tugas itu. Tidak menjadi soal di tingkat mana ia bekerja, seorang penulis cepat menyadari bahwa ia bukanlah pencipta yang orisinil. Kata-kata yang digunakan dan pemikiran-pemikiran yang diungkapkannya selalu merupakan gema dari sesuatu yang di luar jangkauan imajinasinya yang lemah.

Namun, kata-kata kita menjadi penuh kekuatan kala kita merasuk ke dalam kehidupan orang lain. Kita menyentuh orang lain melalui cara berpikir mereka. Kita membangun jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain dan memungkinkan kita memasuki lingkup keinginan mereka lewat kata-kata tertulis, mengalami hal-hal yang mereka alami, bergembira bersama mereka, bahkan mungkin memberi instruksi kepada mereka. Selengkapnya »

2. Hati Seorang Penulis Kristen

Banyak penulis fiksi Kristen gagal menyadari pelayanan mereka sendiri. Namun, di antara halaman-halaman buku mereka, para pembaca menemukan semangat dan pengharapan. Mereka menemukan suatu alasan untuk tetap percaya bahwa doa mengubah segala sesuatu: suatu cahaya redup di dunia yang dari hari ke hari semakin gelap. Tanpa pengajaran dan pimpinan yang jelas tentang ajaran denominasional, benih itu ditanam. Dengan sedikit pemeliharaan di pihak pembaca, benih-benih itu dapat berkembang dan menjadi keyakinan pada Allah yang diperbarui, yang menghasilkan tindakan dan reaksi yang disertai dengan doa, serta sebuah penyegaran; sikap positif terhadap kehidupan.

Ayat lain menyatakan bahwa firman Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan "sia-sia", yang berarti kosong atau tidak terpenuhi. Setiap orang yang membaca halaman-halaman sebuah novel inspirasional, sebenarnya sedang menyerap kata-kata yang ditulis dalam inspirasi yang diberikan oleh Pencipta Semesta. Yang tersembunyi di balik halaman-halaman itu adalah apa yang dibutuhkan pembaca. Mungkin itu suatu pengingat untuk berdoa bagi segala situasi dalam hidupnya. Atau mungkin suatu sentuhan rohani untuk menjadi lebih familier dengan firman Tuhan. Siapakah yang tahu apa yang akan dibawa pembaca dari kata-kata dalam sebuah novel inspirasional? Selengkapnya »

3. Panggilan Para Penulis Kristen

Para penulis Kristen sangat menghargai kebaikan yang melekat pada ciptaan Allah, mengetahui konsekuensi dari kejatuhan manusia, menikmati harapan dari kebangkitan Kristus, dan siap untuk menyambut hari penebusan-Nya atas seluruh dunia. Mereka bisa mengombinasikan bakat dengan dorongan kuat untuk bercerita, dan bisa membuat dunia yang tampaknya sia-sia ini menjadi berarti. Karya mereka bisa memberi signifikansi kekal pada hal-hal duniawi dan memberi harapan dengan tidak pernah mengingkari kebenaran hidup yang kejam dan sulit ini -- akibat dosa. Dengan demikian, karya mereka sangat dihargai oleh budaya sastra kita.

Sebagai contoh, Dorothy Sayers mengambil sedikit unsur dari "novel detektif" dan mengubahnya untuk menggambarkan konflik antara dosa dan kebajikan Kristen. Donald Williams, dalam esainya Christian Poetics, Past and Present, menjelaskan bagaimana penyair bergumul dengan ketegangan antara iman Kristen dan warisan Teutonik. Selain itu, dalam The Divine Comedy, ia menciptakan gambaran-gambaran konkret yang secara alegoris menerangkan doktrin-doktrin Kristen. Selengkapnya »

4. Melayani Dia Melalui Pena

Sering kali, orang menyamakan penginjilan dengan pelayanan firman atau pelayanan mimbar. Ada juga yang mengidentikkannya dengan kunjungan langsung kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus, misalnya dengan mengirimkan misionaris. Namun, seberapa banyak orang yang bisa sepenuh waktu melayani Dia dalam jalur ini? Dibandingkan jumlah penduduk dunia yang milyaran ini, orang yang benar-benar bisa dan terbeban untuk itu masih belum mencukupi. Di samping itu, ada negara-negara atau daerah-daerah yang amat rawan bagi utusan Injil. Hamba-hamba Tuhan yang dikirim, banyak yang pulang hanya tinggal nama. Anda tentu sudah melihat film The Mission, bukan? Nah, di sinilah media tulis berperan. Media tulis bisa menjembatani atau mengisi kekosongan tersebut. Literatur Kristen yang sering juga disebut sebagai "utusan Injil tercetak" mempunyai beberapa kekuatan dan kelebihan. Selengkapnya »

5. Tujuan, Kebiasaan, dan Proses Menulis Seorang Penulis yang Melayani

Lukas berbicara kepada kita bahwa Yesus bertumbuh menjadi pria dewasa, yang berkembang secara mental, fisik, rohani, dan sosial (Lukas 2:52). Jadi, kerinduan saya dalam menulis adalah untuk mengajar serta mendorong pertumbuhan dan perubahan para pembaca. Saya selalu memperhatikan pertumbuhan pembaca ketika saya menulis -- saya dapat membangkitkan semangat dengan menggunakan firman Tuhan dan mengizinkan Roh Kudus bekerja melalui ayat-ayat firman Tuhan. Saya dapat menambah wawasan dengan mengajarkan kebenaran lama dengan cara yang baru, untuk menangkap imajinasi seseorang terhadap Tuhan dan membangun pandangan yang alkitabiah. Saya dapat menyentuh hati seseorang dengan menceritakan kisah-kisah saya secara sederhana dan autentik sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami pesan saya. Saya dapat memengaruhi kehendak dengan memberikan pilihan-pilihan yang merefleksikan pandangan dan prioritas Tuhan. Selengkapnya »

Audio Proses Menulis

ArtikelTopik: Dunia Penulisan Kristene-Penulis 199/Maret/2018

Beroleh Bagian dalam Penebusan

12 March, 2018 - 15:15

Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus .... (Galatia 6:14)

Injil Yesus Kristus selalu menghadapkan kehendak kita pada pilihan-pilihan keputusan: Apakah saya sudah menerima keputusan Allah mengenai dosa seperti yang diputuskan di atas salib Kristus? Sudahkah saya memiliki perhatian terhadap kematian Yesus? Apakah saya bersedia menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya -- untuk mati total terhadap semua keinginan dosa, keduniawian, dan keakuan? Apakah saya rindu sedemikian dekat dipersatukan dengan Yesus sehingga tidak ada yang berharga bagi saya, kecuali Dia dan rencana-rencana-Nya?

Hak istimewa dari pemuridan adalah bahwa saya dapat menyerahkan diri di bawah panji salib-Nya, dan itu berarti mati terhadap dosa.

Anda harus menyendiri dengan Yesus dan memutuskan mengatakan kepada-Nya bahwa Anda tidak ingin dosa dalam diri Anda mati, atau sebaliknya mengatakan kepada-Nya, dengan harga berapa pun Anda mau dipersatukan dalam kematian-Nya.

Ketika Anda merespons karya Tuhan di kayu salib dengan iman, persatuan adikodrati dengan kematian-Nya segera terjadi. Dan, Anda akan tahu melalui pengetahuan yang lebih tinggi bahwa hidup lama Anda telah disalibkan bersama Dia (lihat Roma 6:6). Bukti bahwa cara hidup lama Anda telah mati, dan telah disalibkan dengan Kristus (lihat Galatia 2:20) adalah ketenteraman luar biasa karena Allah hidup dalam Anda dan memungkinkan Anda untuk menaati suara Yesus Kristus.

Kadang kala, Allah memberi kita melihat sekilas bagaimana jadinya kita jika kita tidak hidup bagi-Nya sehingga kita menyadari kebenaran dari apa yang Dia katakan -- "... di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5).

Itu sebabnya, landasan kekristenan adalah pengabdian pribadi, penyerahan yang penuh keyakinan pada Tuhan Yesus. Kita keliru jika menganggap sukacita kita pada saat mengenal Kerajaan Allah untuk pertama kalinya sebagai tujuan-Nya untuk membawa kita ke sana. Namun, tujuan Allah membawa kita masuk ke dalam kerajaan-Nya adalah agar kita menyadari arti penyatuan dengan Yesus Kristus.

Alkitab setahun: Nahum 1-3; Wahyu 14.

Diambil dari: Nama situs : Renungan Harian My Utmost for His Highest Alamat situs : https://renunganharianmyutmostforhishighest.wordpress.com/ditetapkan-allah-untuk-kudus/desember/beroleh-bagian-dalam-penebusan/ Judul renungan : Beroleh Bagian dalam Penebusan Penulis artikel : Oswald Chambers Tanggal akses : 16 Januari 2018 RenunganTopik: Renungane-Penulis 199/Maret/2018

Mengenal Karakteristik Penulis Kristen

12 March, 2018 - 15:14

Pada Maret ini, kami ingin mengajak Sahabat e-Penulis menggali lebih dalam karakteristik penulis Kristen. Sesekali, kita perlu menilik kembali arti, visi, misi, pergumulan, dan praktik penulis Kristen dalam melakukan panggilan Tuhan atas dirinya. Melalui artikel-artikel di bawah ini, kiranya kita semakin diteguhkan dalam panggilan ini. Sebagai alat-Nya, marilah kita mengerjakan tugas kita seturut dengan arahan-Nya.

Selain itu, dalam rangka mempersiapkan Paskah, kami menyajikan renungan Paskah yang akan mendorong kita untuk memiliki perhatian terhadap kematian Yesus dan untuk hidup serupa dengan Dia. Dan, di akhir edisi ini terdapat resensi buku How to Study the Bible and Enjoy It yang akan menolong Anda memulai kegiatan belajar Alkitab. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.



Pemimpin Redaksi e-Penulis,
Santi T.

Dari RedaksiTopik: Dari Redaksie-Penulis 199/Maret/2018

Komentar