Buku yang Tepat untuk Orang yang Tepat | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Buku yang Tepat untuk Orang yang Tepat


Kategori: Artikel

Perpustakaan Mini bagi Setiap Orang

Di Bangladesh, orang Hindu, Islam, dan Kristen dapat memilih buku-buku yang relevan dengan kebutuhan mereka, terlepas apakah mereka orang percaya atau bukan. Di Amerika Latin, para pemuda menyediakan "perpustakaan berjalan", berjalan dari pintu ke pintu untuk meminjamkan buku sambil memberitakan Injil. Di Tanzania, para pustakawan menerima latihan untuk mulai membuat perpustakaan untuk desa dan gereja.

Kathy Tull dalam majalah Interlit (Maret 1995) mengajukan pertanyaan: Apa yang mengaitkan para penerbit Kristen dan pustakawan di seluruh dunia? Jawabannya ialah suatu semangat terhadap literatur dan suatu komitmen untuk menyampaikan buku yang tepat kepada orang yang tepat pada saat yang tepat.

Dibangun dari Sebuah Kotak Sepatu

Salah satu program yang paling tua untuk memberikan buku ke tangan orang yang tepat dimulai di Dar es Salaam, Tanzania pada tahun 1968. Joyce Chaplin, seorang editor dari Africa Christian Press, Ghana, sedang mencari sebuah wadah untuk menyimpan beberapa buku yang biasa dipakai seorang rekannya dari Malawi untuk diperlihatkan kepada teman-temannya. Ia ingin menyimpan buku-buku itu di tempat yang aman. Sementara mereka mencarinya di sekitar dapurnya, mereka membuka sebuah lemari, "dan mata kami menemukan sebuah kotak bekas sepatu pada bagian lemari," Joyce mengenang peristiwa tersebut. "Teman saya mengambil sebuah bangku untuk mengambilnya. Buku-buku itu masuk pas ke dalamnya. Saya tertawa dan berkata, "Inilah perpustakaan kotak sepatu Anda."

Pada saat itu, gagasan mengenai "perpustakaan kotak sepatu" ditanamkan dan dalam waktu seminggu, enam kawan Joyce melancarkan proyek percobaan di Dar es Salaam. Masing-masing memiliki sebuah kotak sepatu yang berisi 20 buklet (10 dalam bahasa Swahli dan 10 dalam bahasa Inggris), ini adalah perpustakaan kotak sepatu yang pertama. Joyce dan penulis Tanzania, Martha Mandao, mengembangkan sebuah moto bagi program perpustakaan mini: "Buku yang tepat untuk orang yang tepat."

Gagasan tentang perpustakaan Kotak Sepatu menyebar ke seluruh Afrika dan negara-negara lain di dunia. Masing-masing perpustakaan mini ini terdiri dari buku-buku yang akan dibagikan kepada teman-teman dan tetangga. Sebagian besar buku-buku itu terdiri atas buku Kristen. Perpustakaan ini juga memasukkan buku-buku tentang kesehatan, nutrisi, pertanian, kesusasteraan, masalah membesarkan anak, dll.. Seorang pustakawan mencatat buku-buku yang dipinjam, kadang-kadang peminjam harus membayar untuk menolong kepastian pengembaliannya. Di beberapa daerah, sebuah ruang baca didirikan di sebuah sekolah atau gereja dan buku dibaca langsung di sana.

Tanzania: Perpustakaan bagi Semua Orang

Sementara perpustakaan mini di Afrika mengalami kesulitan karena langkanya buku dan halangan ekonomi lainnya, usaha untuk memperoleh buku yang tepat bagi orang yang tepat terus berlanjut. Misalnya, Proyek - Habari di Moshi, Tanzania telah menjadi instrumen untuk melatih pustakawan dan memulai perpustakaan di daerah pedalaman. Dalam beberapa tahun, The Northern Diocese of the Evangelical Lutheran Church di Tanzania (ELCT) telah memberikan sponsor untuk melatih 50 pustakawan gereja dan mendirikan suatu sistem perpustakaan mini. Tiap gereja memiliki perpustakaan yang memberikan pelayanan penuh dan kini menjadi program resmi keuskupan bahwa setiap jemaat harus memiliki sebuah perpustakaan dan seorang pustakawan.

Visi tersebut muncul setelah Seth Kitange, direktur komunikasi keuskupan dan kini pemimpin dari proyek Habari, selama beberapa hari mengamati orang-orang yang mengunjungi perpustakaan di sebuah kota di Moshi. Sebagian besar dari para pengunjung perpustakaan adalah para pelajar dan turis, dan perpustakaan itu tidak menjangkau sebagian besar dari masyarakat. Seth meninggalkan perpustakaan tersebut dengan suatu tekad "Jika perpustakaan tidak bisa menarik orang untuk datang, maka perpustakaan yang akan mendatangi mereka."

Kebanyakan perpustakaan gereja memiliki koleksi buku-buku referensi, seperti Alkitab, kamus, atlas, ensiklopedia, dan beberapa buku umum. Koleksi umum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lokal. Misalnya, dalam gereja yang terdapat banyak anak-anak sekolah, perpustakaan melengkapinya dengan buku pelajaran. "Kami telah mendeklarasikan tahun 1996 sebagai Tahun Pemuda," lapor Seth. "Setiap pemuda akan memiliki seorang mentor dalam jemaat dan keduanya akan bertemu di perpustakaan untuk melakukan konseling dan mendapat dorongan."

Bangladesh: Perpustakaan dalam Kaleng Minyak Tanah

Pada bulan September 1982, Asosiasi Baptis untuk Penginjilan Dunia (ABPD) memulai perpustakaan mini mereka yang pertama di Banglades. Buku-buku perpustakaan disimpan dalam kaleng minyak tanah. ABPD kini mensponsori 65 perpustakaan, masing-masing memiliki lebih dari 20 buku yang relevan dengan daerah di mana perpustakaan tersebut berada. Sebuah perpustakaan yang ada di daerah yang mayoritasnya beragama Islam akan menyediakan sebagian besar buku untuk kebutuhan umat Muslim. Sedangkan di daerah yang mayoritasnya beragama Hindu akan menyediakan sebagian besar buku untuk kebutuhan umat Hindu. Tetapi, di daerah di mana kedua umat tersebut sama banyaknya, disediakan campuran yang sama banyaknya dari buku-buku untuk kebutuhan umat Muslim serta Hindu. Masing-masing perpustakaan juga menyertakan buku-buku kesehatan. Perpustakaan-perpustakaan ABPD terletak di enam distrik dan ditempatkan di sekolah, gereja, dan fasilitas komunikasi lainnya. ABPD juga memiliki dua perpustakaan untuk pendeta dan dua lagi di panti asuhan. Setiap bulan pustakawan ABPD, Prodip Dey mengunjungi tempat-tempat perpustakaan itu dengan sepedanya. Tugas Prodip ialah menempatkan perpustakaan dan kemudian memeriksa laporannya. Sedangkan yang bertanggung jawab untuk pemeliharaan buku ada petugas yang ditunjuk untuk setiap perpustakaan.

"Kenyataan bahwa buku-buku kebanyakan ada di sekolah-sekolah membuat orang segan untuk mengakrabinya," kata Jeannie Lockerbie, direktur divisi literatur ABPD. Memang ada beberapa buku yang tak dikembalikan, tetapi itu tidak merisaukan Jeannie. "Itu mungkin merupakan cara Tuhan untuk lebih memasyarakatkan buku." Sebagian dari keberhasilan program perpustakaan mini di Banglades ialah karena di daerah ada program pemberantasan buta huruf yang disponsori negara dan bergerak secara aktif. Akan tetapi dengan bertambahnya populasi menjadi 125 juta, kebutuhan akan buku akan semakin meningkat.

Buku untuk Keluarga di Amerika Latin

Distribuidora Internacional de Materiales Evangelicos (DIME) yang bermarkas di California telah menempatkan lebih dari 500 "Perpustakaan Mini untuk Keluarga" di 16 negara di Amerika Latin. Perpustakaan DIME bekerja aktif di Argentina, Belize, Bolivia, Kolumbia, Costa Rica, Chili, Equador, Spanyol, Meksiko, Paraguay, Peru, Puerto Rico, dan Uruguay. Setiap perpustakaan memiliki 16 buku, termasuk Nuero Testamento (Perjanjian Baru) dan La Biblia Ilustrada (Alkitab Bergambar), sebuah novel, dan judul-judul Kristen lainnya, seperti Mas alla de la culpa (Beyond Guilt) karangan Pablo Sheetz. Masing-masing perpustakaan juga memunyai 25 majalah penginjilan DIME, la Voz, dan bahan-bahan lain.

Salah satu ciri dari sistem Amerika Latin ialah komunikasi yang dikembangkan DIME dengan setiap perpustakaan. Pedro Dillo, direktur DIME, mempertahankan komunikasi melalui El libro apropiado (Buku Benar), buletin empat halaman bagi pustakawan, diterbitkan dua kali setahun oleh DIME. Kuesioner berkala dikirimkan kepada para pustakawan menolong DIME mengetahui bagaimana perpustakaan dimanfaatkan, siapa para pembacanya, dan bagaimana mereka memberikan respons terhadap buku yang mereka baca. Para pengguna program DIME selama ini sangat antusias dalam memanfaatkan perpustakaan. Di Argentina, para pembaca mengatakan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk membaca buku-buku, yang karena situasi ekonomi, tidak mampu membelinya sendiri. Di Costa Rica, seorang pustakawan menambahkan kepada perpustakaan mini koleksi bukunya sendiri, yang sudah biasa dipinjamkannya kepada tetangganya dan rekan sekerjanya. Para pembaca menjadi begitu tertarik dalam masalah-masalah rohani, sehingga mereka meminta supaya diadakan pemahaman Alkitab. DIME juga telah menempatkan beberapa dari perpustakaan berbahasa Spanyol di penjara-penjara di Amerika Serikat. "Para penghuni penjara yang bekerja sama selalu ingin meminjam buku-buku dari perpustakaan mini," tulis seorang pustakawan penjara.

Spanyol: Jeruk, Bawang Putih, dan Buku

Di Spanyol, perpustakaan mini muncul di pasar bersamaan dengan jeruk, bawang putih, dan daun selada. Setiap hari Jumat selama lima tahun terakhir ini, meja pertama pada pintu masuk ke sebuah pasar terbuka di San Fernando, di pinggiran kota Madrid, berfungsi sebagai perpustakaan yang meminjamkan bacaan kristiani, video, serta kaset. Orang-orang Kristen memperoleh izin dari pemerintah setempat untuk mengadakan perpustakaan mini setelah ada persetujuan untuk tidak menjual apa pun. Yang menarik, pada meja tersebut tidak tertulis tanda apa-apa. Sebenarnya tanda-tanda yang pernah dipasang sebelumnya, seperti: " Perpustakaan", "Buku-Buku Injili", dan "Buku Gratis" tidak menarik perhatian orang banyak karena orang tidak percaya bahwa buku bisa diperoleh secara gratis. "Adalah lebih baik untuk menarik rasa ingin tahu orang banyak dengan menarik perhatian mereka," kata Miguel Angel Oyerbide, seorang anggota gereja injili setempat dan salah satu pengerja pada meja perpustakaan. "Ketika orang mulai mencarinya, semakin banyak orang berdatangan."
Perpustakaan semacam itu akhir-akhir ini memiliki 200 judul buku dalam bahasa Spanyol untuk dipinjamkan, seperti karya Billy Graham, Joni Erickson Tada, dan Frank Peretti. Ada orang yang boleh meminjam sampai satu atau dua tahun, tetapi tindak lanjut melalui telepon dan kunjungan membuka kesempatan-kesempatan untuk dorongan dan kesaksian pribadi.

Buku untuk Orang Banyak

Di Tanzania, Seth Kitange duduk di luar sebuah perpustakaan selama seminggu sambil mengamati para pengguna perpustakaan. Di Banglades, Prodip Dey mengayuh sepedanya dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain sambil memeriksa catatan dan memantau para peminjam buku. Di Amerika Latin, Pedro Dillon mempertahankan komunikasi dengan 5 atau lebih pustakawan perpustakaan mini di 16 daerah. Di Spanyol, Miguel Angel Oyerbide berdiri di sisi sebuah meja yang berfungsi sebagai perpustakaan di sebuah pasar dengan harapan agar lebih banyak lagi orang yang mau meminjam buku. Apa yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang dari pelbagai negara ini? Jawaban Kathy Tull: Suatu komitmen untuk menyampaikan buku yang tepat kepada orang tepat (data).

"Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian."
(Amsal 2:6)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, No.620,
September 1995, Tahun ke-65
Penulis : Bestiana Simanjuntak
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
Halaman : 27 -- 28

Komentar