Merupa Jiwa | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Merupa Jiwa


Kategori: Resensi Buku Cetak, Hidup Kristen

Judul buku : Merupa Jiwa
Judul asli : SOULCRAFT: How to Shapes Us through Relationship
Penulis/Penyusun : Douglas D. Webster
Penerjemah : Drs. Soemitro Onggosandojo, M.A.
Editor : --
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung 2004
Ukuran buku : --
Tebal : 282 halaman
ISBN : --
Buku Online : --
Download : --
Sumber : Majalah Kalam Hidup

Pernahkah kita merasa putus dengan sahabat karib, keluarga, dan orang-orang yang kita kasihi sebelumnya? Kalau pernah, bagaimana kita memulihkannya? Tentunya, harus ada upaya yang pantas dilakukan untuk menjalin kembali hubungan yang putus atau retak itu. Seperti sebuah kendi dari tanah liat yang retak, diperlukan seni yang tinggi untuk menutupi keretakan itu. Begitu pula dalam hubungan dengan sesama. Diperlukan teknik dan seni yang tinggi untuk memulihkan hubungan itu.

Penulis buku ini membandingkan pekerjaan pertukangan semacam seni memotong, mengerjakan, menghubungkan kayu menjadi konstruksi, dan kemudian membahas soal kayu, peralatan, dan bangunan. Lalu membandingkannya dengan "merupa jiwa" yaitu "seni menangkap, menerapkan, dan menikmati hikmat Allah dalam setiap segi kehidupan."

Menurut pengarang buku ini, jiwa adalah Anda sendiri. Jiwa bukan bagian dari Anda, seperti otak atau hati. Lalu, dilanjutkan dengan pembahasan bahwa sesungguhnya makhluk manusia itu merupakan sebuah kesatuan yang memiliki kemampuan kreatif, namun kompleks.

Upaya pembentukan jiwa sesungguhnya sangat berkaitan dengan doa, karena doa adalah sebuah pekerjaan nyata dan praktis. Manusia yang utuh memerlukan doa untuk disampaikan kepada Penciptanya, sehingga terjadi hubungan yang utuh dan autentik. Kalau doa diabaikan dalam kehidupan, akibatnya ialah jiwa yang merana, kesehatan yang merosot, serta keseimbangan emosi dan mental yang terganggu. Doa harus disampaikan kepada Tuhan dari waktu ke waktu, dan tanpa henti.

Langkah berikutnya yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk memulihkan citra jiwanya dan membentuk kembali hubungan yang harmonis dengan Tuhannya, ialah memahami firman Tuhan dengan belajar sungguh-sungguh. Banyak orang yang berdoa tetapi lalai membaca Alkitab. Padahal Alkitab memiliki kedudukan yang unik dalam kehidupan rohani kita. Kitab ini merupakan penuntun bagi jiwa manusia sehingga senantiasa memusatkan pikiran dan perhatian kepada Yesus Kristus. Alkitab adalah firman yang diberikan Tuhan dengan fokus utama Yesus Kristus. Firman ini bukanlah hasil karya cipta manusia. Manusia menuliskannya karena diilhamkan Tuhan. Manusia harus merendahkan hatinya di hadapan Tuhan, menjauhkan sikap sombong dan angkuh.

Pernahkah Anda merasa risau dan kacau dalam kehidupan ini? Sulit mendengar firman Tuhan? Kalau kita membaca Kitab Suci, ayat-ayat pertama memberitakan situasi bumi yang campur baur dan kemudian dibentuk oleh Allah sampai akhirnya Tuhan melihat bahwa semuanya menjadi "indah". Tuhan adalah Allah yang suka dengan keteraturan, irama yang ditimbulkan-Nya adalah harmoni yang seimbang. Manusia diciptakan Tuhan untuk menghuni bumi dan saling mengisi. Begitu pula dengan surga, disediakan oleh Tuhan bagi umat manusia. Semuanya saling terkait dalam suasana yang berimbang. Namun, karena hubungan manusia dengan Tuhan pernah retak, Tuhan ingin memulihkan kembali hubungan yang retak itu dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia.

Hal-hal apa lagi yang merintangi hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya? Kejenuhan! Manusia terperangkap dalam hubungan yang rutin dengan Tuhan dalam peribadatan, sehingga hubungan itu bersifat rutinitas. Atau manusia menjadi jenuh karena kesibukan yang luar biasa, sehingga lupa berkomunikasi dengan Tuhan dan akhirnya merasa tidak memerlukan hubungan yang demikian. Mengenai kejenuhan ini, penulis mengutip pendapat teolog abad ke-19 bernama Kiergard, yang mengatakan bahwa kejenuhan merupakan akar dari segala kejahatan dan bahwa penakluknya merupakan "kebutuhan zaman ini".

Penulis buku ini mengungkapkan banyak hal yang berkaitan dengan bagaimana memulihkan jiwa, supaya manusia kembali kepada citra yang semula, sebagaimana yang dikehendaki Allah. Cara penguraiannya cukup menarik, tinjauannya dilakukan dari sudut sosiologi, psikologi, dan tentu saja dari sudut teologi. Setiap bab diakhiri dengan referensi, sebagai acuan yang digunakan penulis untuk membahas topik yang disajikannya.

Secara intelektual, buku ini patut ditelaah para mahasiswa teologi apabila mereka terjun dalam pelayanan. Banyak masalah yang timbul di dalam jemaat, hubungan anggota jemaat yang satu dengan yang lainnya, hubungan gembala jemaat dengan anggotanya, dan hubungan anggota jemaat dengan masyarakat di sekitarnya. Kaum awam yang ingin mencari tahu solusi terhadap masalahnya dengan sesama, perlu membaca buku ini.

Peresensi: Wina

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Tahun ke-75 No. 800, Mei 2005
Halaman : 50 -- 51

Komentar