Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme


Kategori: Penginjilan, Resensi Buku Online

Judul asli : --
Penulis : --
Penyeleksi : Th van den End
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 2000
Ukuran buku : --
Tebal : 510 halaman
Sumber : Pub. e-Buku edisi 48/2009

Bagi sebagian orang, membicarakan Calvinisme tampaknya hanya akan dikaitkan dengan sosok besar John Calvin. Padahal jika dicermati, ajaran-ajaran Calvinisme jelas tidak bersumber dari Calvin semata. Penelaahan Alkitab yang mendalam, diskusi, dan konsili-konsili gerejawi telah memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang sebenarnya dipercayai oleh kaum Calvinis. Sayangnya, dibandingkan dengan tulisan atau biografi seseorang, kebanyakan dari kita tidak terlalu memberi perhatian pada hasil-hasil upaya tadi. Kecenderungan seperti ini terlebih lagi dirasakan di Indonesia yang jumlah pustaka teologisnya masih terbilang kecil. Sehingga walaupun banyak lembaga gereja di Indonesia yang mendasarkan teologinya pada Calvinisme, atau setidaknya dipengaruhi olehnya, kebanyakan umat sering tidak memahami apa yang sebenarnya dipercayai oleh denominasi ini.

Menyadari hal tersebut, Van den End melalui buku ini mencoba menyampaikan pokok-pokok ajaran Calvinisme dengan menerjemahkan beberapa dokumen gereja pendukung aliran ini. Buku ini mengacu pada karya monumental Dr. de Jonge, "Apa itu Calvinisme". Selain menyediakan naskah utuh dari keenam belas dokumen gerejawi yang dikutip Dr. de Jonge, Van den End juga menambahkan kilasan sejarah yang melatarbelakangi dokumen tersebut. Hal ini tentu membuat pemahaman dalam buku ini cukup komprehensif. Bagian pertama buku ini berisi pengakuan iman yang terdiri dari pengakuan iman Gereja Perancis, Gereja Belanda, Dordrecht, dan Westminster. Bagian kedua ada katekismus yang terdiri dari Katekismus Jenewa, Heidelberg, Ikhtisar Agama Kristen (bentuk sederhana dari Kateksimus Heidelberg yang cukup dikenal gereja-gereja di Indonesia), serta Katekismus Westminster Besar dan Kecil. Sedangkan bagian ketiga, disajikan beberapa tata gereja Calvinis, yaitu Tata Gereja Perancis, Jenewa, Belanda, dan sedikit variasinya dari gereja Presbiterian di Inggris. Selanjutnya bagian keempat berisi tata ibadah yang disusun oleh Yohanes Calvin dan tata ibadah gereja Reformed di Belanda. Melalui bab inilah kita dapat melihat dan membandingkan esensi ajaran Calvin di berbagai tempat. Kita dapat melihat perbedaan tata gereja di Jenewa yang pemerintah kotanya mendukung reformasi dengan tata gereja di Perancis yang pada saat itu menentang ajaran Calvinisme. Serta perbedaan penekanan antara gereja di Belanda, yang tidak mengalami konfrontasi langsung dari Gereja Katolik Roma, dengan gereja di Perancis yang jelas-jelas merasakannya. Dengan membandingkan hal-hal ini, kiranya pembaca dapat memperoleh gambaran bagaimana kaum Calvinis merumuskan dan menerapkan keyakinannya. Bisa jadi ini menjadi pedoman bagi banyak lembaga gereja lain saat menyusun dasar kepercayaan dan menerapkan aturan gerejawi yang mendukung kepercayaan itu. Satu hal yang diyakini para teolog Calvinis adalah bahwa Calvinisme itu fundamental sekaligus kontekstual.

Meski telah mencoba membatasi catatan kaki, kelihatannya penyusun memang harus banyak memakainya. Van den End sebenarnya dengan cerdik membedakan catatan kaki untuk ayat Alkitab dengan abjad, sedangkan catatan kaki biasa dengan angka. Namun patut disayangkan dalam versi elektronik catatan kaki dengan angka tadi tidak ditampilkan dengan baik, hal ini cukup menyulitkan dalam membaca buku tersebut mengingat banyak sekali anotasi di dalamnya. Buku ini sepertinya memang diorientasikan untuk riset dan pemahaman, jadi sebaiknya jangan membaca buku ini sepintas lalu. Meskipun begitu, kekurangan kecil yang ada tidaklah mengurangi keunggulan buku ini dalam menyajikan topik pokok bagi pembaca, yaitu pokok-pokok ajaran otentik Calvinisme. Selamat bereksplorasi!

Buku online di atas bisa dibaca di:

Nama situs : SOTeRI
Alamat URL : http://reformed.sabda.org/

Peresensi: Risdo M. Simangunsong

Komentar