Visi Misi Jurnalistik Kristen | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Visi Misi Jurnalistik Kristen


Kategori: Artikel

Hampir semua perusahaan di dunia ini, terutama yang profesional, selalu memiliki visi dan misi perusahaan. Istilah yang mereka pakai bermacam-macam. Namun yang paling sering mereka pakai, terutama di buku-buku manajemen, adalah Mission Statement (Pernyataan Misi).

Jurnalis Kristen, sebagai orang yang menyandang nama Kristus, tentu saja harus memiliki visi dan misi yang jelas. Tujuan hidup utama orang Kristen adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam rangka mengasihi Tuhan dan sesama itulah, pengikut Kristus diperintahkan untuk melaksanakan Amanat Agung yang Yesus ucapkan:

"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Untuk melakukan Amanat Agung itu, jurnalis Kristen harus ikut berperan serta secara aktif melalui talenta dan keterampilannya. Jurnalis Kristen bisa mengambil bagiannya, paling tidak, dalam tiga hal. Pertama, menunjukkan kepada dunia bahwa orang Kristen adalah media itu sendiri. James F. Engel, pakar komunikasi Kristen, mengatakan bahwa gereja (orang Kristen) bukan hanya media, tetapi juga pesan itu sendiri. Rasul Paulus memunyai penjelasan yang lebih baik. Dia menulis: "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." (2 Korintus 3:2). Kedua, menyebarkan kabar baik atau berita keselamatan itu melalui medianya. Ketiga, mengajarkan pada pembaca mengenai cara memeroleh keselamatan itu.

Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma mengenai hal berikut ini:

"Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakannya?"

Tugas seorang jurnalis Kristen adalah menceritakan berita keselamatan itu melalui media, tempat dia bekerja. Bagi jurnalis Kristen, media cetak, koran, majalah, dan tabloid adalah tempat untuk menyalurkan pelayanannya itu. Namun, masih banyak orang yang belum memahami bahwa penerbitan Kristen merupakan suatu pelayanan. Isaac Phiri, editor Interlit -- sebuah majalah internasional tentang penerbitan Kristen -- menulis:

"Penerbitan dikatakan sebagai suatu profesi kecelakaan, dan tidaklah sukar untuk mengerti mengapa bisa begitu. Sangat sedikit akademi atau universitas yang menawarkan mata kuliah utama di bidang penerbitan. Para penasihat karier tidak bisa berkata banyak tentang karier di bidang penerbitan. Bagaimana orang bisa terlibat dalam penerbitan Kristen, jauh lebih misterius. Seminari dan universitas Kristen hampir tidak pernah menyebutkan penerbitan sebagai suatu bidang pelayanan. Demikian halnya dengan gereja. Allah memanggil manusia untuk misi, bukan penerbitan."

KELEBIHAN MEDIA CETAK

Tokoh-tokoh terkenal dunia, sejak dulu mengakui kelebihan media cetak ini. Napoleon Bonaparte, misalnya, berkata:

"Senjata api dan pena adalah kekuatan-kekuatan yang paling dahsyat di dunia. Tetapi, kekuatan pena akan bertahan lebih lama bila dibandingkan dengan senjata api."

Senada dengan Napoleon Bonaparte, Benjamin Franklin pun mengatakan:

"Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia."

Ketika ditanya, apakah yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, "Huruf A sampai Z". Martin Luther, Reformator Gereja, bahkan dengan tegas mengucapkan:

"Selain keselamatan dari Tuhan Yesus, maka anugerah terbesar dari Tuhan yang lain adalah mesin cetak."

Perkataan Martin Luther sudah terbukti. Setelah mesin cetak berhasil dibuat, di Amerika terjadi panen jiwa yang luar biasa. Puluhan juta jiwa dibaptis. Di antara mereka yang dibaptis, 85% mengatakan bahwa mereka datang kepada Kristus karena bacaan rohani dalam bentuk traktat, buku, dan majalah. Pendeta Oswald Smith, Gembala Sidang People Church di Toronto, Kanada, mengatakan, "Saya sudah berkeliling dunia ke tujuh puluh negara sambil mencari cara, manakah yang paling efektif untuk penginjilan sedunia. Dan sampai detik ini, yang bisa saya dapatkan adalah melalui media cetak."

Senada dengan Napoleon Bonaparte, Benjamin Franklin, Martin Luther, dan Oswald Smith, para tokoh Kristen modern pun memercayai kekuatan media cetak ini. Apa saja komentar mereka? Ucapan mereka dimulai dengan frasa yang sama, saya percaya penerbitan karena:

  1. "Penerbitan mematuhi perintah Kristus" (Andrezej Gandecki, India).
  2. "Penerbitan sangat dibutuhkan" (Daniel Bourdanne, Cote d`Ivoire).
  3. "Penerbitan memenuhi kebutuhan yang dalam" (C.D. Jebasingh, India).
  4. "Penerbitan membagi harapan" (Andrea Zaki, Mesir).
  5. "Potensinya besar" (A.T. Kurian, India); "Lebih kuat ketimbang senapan" (Nico Bougas, Afrika Selatan).

George Verwer, tokoh penginjilan literatur, juga memercayai kekuatan literatur Kristen. Di dalam traktatnya yang berjudul "Pelayanan Literatur", disebutkan bahwa literatur Kristen juga sering disebut "Utusan Injil Tercetak". Di dalam traktat itu, pendiri dan koordinator internasional Operation Mobilisation (OM) ini menyebutkan bahwa paling tidak ada sepuluh kekuatan literatur Kristen, yaitu:

  1. Ia dapat pergi ke mana-mana tanpa dilihat sebagai orang asing;
  2. Lewat pos, ia dapat masuk sampai ke tempat-tempat di mana seorang penginjil tidak diizinkan masuk;
  3. Ia menyampaikan beritanya dengan rajin tanpa mengenal batas waktu, istirahat, atau cuti;
  4. Ia memersembahkan beritanya sesuai dengan kecepatan berpikir seseorang dan menurut kesenangan pembacanya;
  5. Ia memungkinkan si pembaca mendalami berita yang sama berulang-ulang;
  6. Ia adalah pengkhotbah estafet yang menyampaikan beritanya dari satu orang ke orang lain;
  7. Ia memungkinkan si pembaca memelajari satu bagian khusus dari berita yang menarik hatinya;
  8. Dalam bentuk buku, ia dapat memberi makanan rohani kepada mereka yang lapar berjam-jam, bahkan berhari-hari seperti pengkhotbah bersambung yang tidak berkeputusan;
  9. Pada umumnya tidak mahal, tetapi juga tidak kalah baik buahnya dibandingkan dengan cara penginjilan lainnya;
  10. Dalam waktu satu jam, ia dapat dibagikan kepada lebih banyak orang daripada jumlah rata-rata pengunjung setiap Minggu pagi.

Ternyata, George Verwer pun bertobat dan mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat karena pelayanan literatur. Di dalam pendahuluan bukunya yang berjudul "Literature Evangelism" (Penginjilan Literatur), pimpinan badan misi yang memiliki kapal Logos 11 dan Doulos ini menulis:

"Pada tahun 1957, saya menerima Kitab Injil Yohanes melalui pos yang dikirimkan oleh seorang ibu Kristen yang baik hati dan yang percaya bahwa Allah menjawab doa dan yang juga percaya akan kuasa Injil dalam bentuk barang cetakan. Selama dua tahun saya membaca buku kecil itu dengan teratur sehingga akhirnya saya `dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal` (1 Petrus 1:23)."

Seperti George Verwer, Billy Graham pun mengakui kuasa media cetak. Di dalam bukunya, "Just As I Am", penginjil internasional ini menulis:

"Liputan media mengenai kami, beberapa tahun pertama, tahun lima puluhan tak pelak lagi merupakan penentu yang membawa pekerjaan kami kepada masyarakat. Meskipun demikian, selama itu, pertanyaan lain terus-menerus timbul dalam pikiran saya: Jika media bisa digunakan untuk mempromosikan pelayanan penginjilan, apakah media juga bisa langsung digunakan untuk menginjili? Seperti sudah saya catat, pemikiran tersebut membawa kami, mula-mula pada radio dan film. Namun tidak lama kemudian, kami mengalihkan perhatian kami pada halaman cetak. Begitu program radio atau film usai, pengaruhnya sebagian besar berakhir pula. Tetapi, buku dan majalah bisa mencapai tempat-tempat yang tidak bisa dicapai khotbah, dan bisa secara berkesinambungan memengaruhi, lama setelah si penulis sudah tidak ada."


Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Menulis Dengan Cinta
Penulis : Xavier Quentin Pranata
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta
Halaman : 17 -- 23
Dipublikasikan di : e-Penulis
Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/

Komentar