Untuk Belajar Taat dan Disempurnakan | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Untuk Belajar Taat dan Disempurnakan


Kategori: Renungan

Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibrani 5:81)

Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan - yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. (Ibrani 2:10)

Surat yang mengatakan bahwa Kristus "belajar taat" melalui penderitaan, bahwa Dia "[di]sempurnakan" dengan penderitaan, adalah surat yang sama yang juga mengatakan bahwa Dia tidak berdosa: "Sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15).

Ajaran ini disampaikan secara konsisten di dalam seluruh Alkitab. Kristus tidak berdosa. Walaupun Dia adalah Anak Allah, Dia juga adalah manusia sejati, yang pernah merasakan segala pencobaan, keinginan, dan kelemahan fisik seperti yang kita rasakan. Dia pernah merasa lapar (Matius 21:18), merasa marah serta sedih (Markus 3:5), dan merasa sakit (Matius 17:12). Tetapi hati-Nya secara sempurna mengasihi Allah dan Dia bertindak sesuai dengan kasih tersebut: "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya" (1 Petrus 2:22).

Oleh karena itu, ketika Alkitab mengatakan Yesus "belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya," ini bukan berarti Dia belajar untuk menghentikan ketidaktaatan-Nya. Makna dari ayat ini adalah bahwa di dalam setiap pencobaan, Dia belajar dalam praktik -- dan di dalam kesengsaraan -- apa yang dimaksudkan dengan menaati. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Dia "[di]sempurnakan ... dengan penderitaan," ini bukan berarti Dia secara perlahan-lahan menghilangkan kekurangan yang ada pada diri-Nya. Makna ayat ini adalah bahwa Dia secara bertahap menggenapi kebenaran dan keadilan yang sempurna yang harus dimiliki-Nya agar bisa menyelamatkan kita.

Itulah yang dikatakan-Nya pada saat Dia dibaptis. Dia tidak perlu dibaptis karena Dia tidak berdosa. Tetapi Dia menjelaskan kepada Yohanes Pembaptis, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15).

Maksudnya adalah jika Anak Allah bergerak dari inkarnasi kepada salib tanpa menjalani kehidupan yang penuh pencobaan dan kesengsaraan untuk menguji kebenaran dan kasih-Nya, Dia bukanlah Juru Selamat yang sesuai bagi manusia. Penderitaan-Nya bukan hanya karena menanggung murka Allah. Penderitaan-Nya juga menggenapkan kemanusiaan-Nya dan menjadikan Dia layak memanggil kita sebagai saudara (Ibrani 2:17).

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Penderitaan Yesus Kristus
Judul buku asli : The Passion of Jesus Christ
Penulis : John Piper
Halaman : 14 -- 15

Komentar