Spiritual Depression | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Spiritual Depression


Kategori: Resensi Buku Cetak, Hidup Kristen

Judul asli : --
Penulis : Martin Llyod Jones
Penerjemah : --
Penerbit : Eerdmands Publishing Company, 1965 (cet. ke-1)
Ukuran buku : --
Tebal : 300 halaman
Sumber : Pub. e-Buku edisi 15/2007

Martin Llyod Jones adalah seorang pendeta di Westminster yang mempunyai pengaruh besar, khususnya pada abad ke-20. "Spiritual Depression" adalah kumpulan khotbah yang dibawakan pada Minggu pagi selama 21 minggu berturut-turut di Westminster Chapel. Buku ini secara khusus membahas mengenai kehidupan orang Kristen secara umum baik orang yang baru percaya ataupun orang yang sudah percaya yang tidak lepas dari berbagai macam pergumulan dan tantangan dalam kehidupannya sehingga mengalami kesulitan untuk bersukacita.

Buku ini terdiri dari 21 bab yang disusun dalam suatu rangkaian urutan yang dapat menuntun kita kepada satu pemikiran mengapa sukacita dalam kehidupan kekristenan itu penting dan apakah yang mendasarinya. Bagian tersebut dilanjutkan dengan apa yang menyebabkan depresi/dukacita dalam kehidupan kekristenan dan diakhiri dengan apa yang mengatasi dukacita tersebut. Setiap pembahasan didasarkan dari ayat atau perikop yang dapat kita renungkan saat membaca buku ini.

Pemikiran yang harus kita refleksikan ada dalam bab pertama, yaitu mengapa penting bagi seorang Kristen untuk menyelidiki mengapa dalam kehidupan kekristenan seseorang tidak mengalami sukacita. Jones menyebutkan setidaknya ada dua alasan yang penting:

"It is very sad to contemplate the fact that there are Christian people who live the greater part of their lives in this world in such a condition. It does not mean that they are not Christians, but it does mean that they are missing a great deal ...." -- Adalah sangat menyedihkan bila merenungkan suatu kenyataan bahwa ada orang-orang Kristen yang sebagian besar dari kehidupannya di dunia hidup dalam kondisi ini (depresi secara spiritual). Hal ini bukan berarti mereka bukan orang Kristen, tetapi artinya mereka kehilangan sangat besar ...."

"... we must face this problem for the sake of the Kingdom of God and for the glory of God ... a depressed Christian is a contradiction in terms, and he is a very poor recommendation for the gospel .... People today are not primarily interested in Truth but they are interested in results." -- ... kita harus menghadapi masalah ini untuk Kerajaan Allah dan kemuliaan Allah ... orang Kristen yang depresi adalah sebuah kontradiksi (sebagai Kristen) dan ia adalah rekomendasi yang buruk untuk Injil .... Orang-orang saat ini tidak terlalu tertarik kepada kebenaran tetapi mereka tertarik pada hasil.

Dua hal inilah yang ditekankan sebagai alasan pentingnya kehidupan kekristenan yang bersukacita sehingga melaluinya tidak hanya orang Kristen itu sendiri yang dibangun, tetapi lingkungan di sekitarnya yang melihat sukacita yang terpancar itu juga dibangun dan melihat kebenaran dalam Injil. Sukacita yang dibicarakan bukanlah sukacita yang tampak dari luar yang berupa senyuman dan tertawa kosong yang hanya menjadi topeng untuk menutup dukacita yang ada di dalam hati, melainkan sebuah sukacita yang terpancar sebagai seorang Kristen.

Satu hal yang cukup menarik, sebelum membahas lebih lanjut tentang isi buku ini, Jones dalam bab kedua menekankan kembali fondasi dasar kehidupan kekristenan yang mungkin sering kali kita anggap sudah mengetahuinya sehingga tidak perlu diulang-ulang. Ia menekankan bagaimana kita harus melihat hanya kepada Kristus dan karya-Nya dan tidak yang lain. Ia mau kita kembali menguji dan bertanya kepada diri kita sendiri sebelum kita berniat untuk membahas tentang ini karena tanpa fondasi itu, tidak ada seorang pun yang dapat lepas dari depresi secara spiritual.

Bab-bab selanjutnya merupakan bagian yang harus dibaca dan direnungkan sendiri secara pribadi oleh setiap orang. Setiap bab membawa satu pokok perenungan yang mungkin dihadapi dalam kehidupan spiritual seorang Kristen. Mungkin ada orang yang tidak bisa lepas dari ikatan penyesalan perbuatan yang dilakukan di masa lalu. Mungkin juga ada orang yang sedang bergumul karena ketakutan di masa yang akan datang atau mungkin ada yang lelah dalam pekerjaan dan pelayanan. Dalam buku ini kita juga diajak melihat hal-hal yang sama yang juga pernah dialami oleh saudara-saudara kita yang lain -- pergumulan yang bukan hanya dialami oleh kita sendiri. Melalui kesaksian tersebut kita bisa belajar untuk mengidentifikasikan diri kita bila mengalami pergumulan yang kurang lebih sama.

Buku ini ditutup dengan beberapa bab mengenai kehidupan yang seharusnya dialami sebagai seorang Kristen. Pembahasan lebih diarahkan untuk mendorong kita supaya belajar untuk percaya akan pemeliharaan dari Tuhan yang Mahakuasa, bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak lepas dari kendali Tuhan, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah untuk kebaikan kita juga. Seluruh buku ini ditutup dengan perenungan dari Filipi 4:13 -- satu bagian Alkitab yang kembali mengingatkan kita bahwa Kristuslah yang menguatkan kita. Di sini kita melihat bahwa penekanan untuk melihat kepada Kristus di bagian awal ditekankan kembali di akhir buku ini.

Bukankah sebagai seorang Kristen kita sering kali tidak bisa mengalami sukacita, melainkan seakan kehidupan Kristen adalah kehidupan yang menderita, menyedihkan, dan sengsara? Mungkin saat ini kita mengalaminya atau mungkin kita melihat hal tersebut dalam kehidupan orang lain. Untuk itulah perenungan yang dibawakan buku ini ditujukan. Bukankah sangat disayangkan bila kita kehilangan sukacita yang sudah dikaruniakan oleh Allah? Dan bukankah sangat disayangkan bila banyak orang tidak bisa melihat indahnya kehidupan bersama Kristus karena kehidupan kita tidak memancarkan hal itu? Biarlah kita juga mampu berkata seperti yang Paulus katakan dalam Filipi 4:13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku," walau apa pun terjadi dalam kehidupan kita. Biarlah nama Tuhan dimuliakan melalui kehidupan kekristenan kita di mana kita ditempatkan. Soli Deo Gloria!

Peresensi: Victor Wibowo

Komentar