Mendongeng (Storytelling) dan Membacakan Buku (Reading Aloud) | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Mendongeng (Storytelling) dan Membacakan Buku (Reading Aloud)


Kategori: Kiat-kiat

Mendongeng atau bercerita dapat dilakukan dengan teks (membacakan buku) atau bisa juga tanpa teks. Masing-masing mempunyai keuntungan sendiri-sendiri, namun sebaiknya dilakukan bergantian. Membaca buku erat kaitannya dengan meningkatkan kemampuan dan minat baca anak, sedangkan mendongeng tanpa buku erat kaitannya dengan meningkatkan rasa percaya diri pendongeng dan anak didik. Yang dimaksudkan di sini adalah dengan membacakan buku, anak akan terbiasa melihat huruf dan kata-kata yang diceritakan. Jadi, anak dapat merangkaikan huruf dan bunyi yang didengar. Dengan demikian, terutama anak-anak TK akan cepat dapat membaca (asal tidak dipaksa, karena ini bukanlah pelajaran membaca). Sedangkan dengan mendongeng, guru akan banyak berlatih dan anak dapat dilibatkan dalam kegiatan bercerita sehingga dapat ikut mengekspresikan dirinya. Dengan demikian, dapat terjadi anak yang mula-mula pemalu dan menutup diri akan berubah sikap.

Tahap Pertama

  1. Kenalilah diri Anda. Apakah Anda ingin menjadi seorang "Artist Storyteller" (seniman pencerita) atau "Librarian/Teacher Storyteller" (pustakawan/pendongeng ahli)?

  2. Apakah Anda ingin dikenal luas atau hanya ingin menempatkan diri sebagai medium sebuah cerita (tentu yang telah dipilih dengan hati-hati)?

  3. Apakah Anda lebih suka mendongeng di panggung dengan pendengar yang banyak dan menggunakan cara-cara teater? Untuk melakukan ini, Anda memerlukan latihan dan pengalaman yang mungkin memakan waktu bertahun-tahun.

  4. Apakah Anda lebih suka mendongeng di depan kelompok kecil, santai, dan intim serta bersahabat? Misalnya di perpustakaan, di kelas, dan di ruang lain yang terbatas. Untuk melakukan ini, yang terpenting adalah ceritanya. Jadi, ambil dan bacalah buku yang tepat dan yang Anda sukai. Lalu, mulailah belajar mendongeng atau bercerita pada anak.

Tahap Kedua

  1. Apakah Anda ingin membacakan cerita atau mendongeng? Kenalilah ciri ceritanya dari pengalaman.

  2. Bila cerita ditulis dengan penggambaran yang lebih mendetail dan menggunakan kalimat yang mempunyai perbendaharaan kata yang luas, maka cerita ini lebih cocok untuk dibacakan. Selain itu, cerita yang dibacakan lebih lambat daripada yang didongengkan. Cerita yang banyak memiliki ilustrasi juga cocok untuk dibacakan karena perlu diperlihatkan pada anak. Cerita yang cocok untuk mendongeng, antara lain cerita rakyat karena bersifat fleksibel. Juga, cerita yang Anda ubah sendiri dari berbagai sumber, pengalaman sendiri atau orang lain, dan sebagainya dapat diolah dan didongengkan.

Tahap Ketiga

  1. Persiapan untuk membacakan buku:

    1. Memilih cerita.
    2. Latihan membaca untuk diri sendiri supaya Anda menyenangi suara Anda sendiri.
    3. Gunakan suara yang tepat, tetapi tidak berlebihan. Lakukan dengan antusiasme dan intonasi yang tepat.
    4. Teknik membacakan buku:
    • Peganglah buku tepat pada posisi mata anak.

    • Jangan selalu terpaku pada buku.

    • Pegang buku agak di sebelah kiri atau kanan.

    • Pengaturan jarak antara pendongeng dan anak, sehingga semua dapat melihat buku dengan jelas.

    • Pendongeng bisa duduk di kursi.

  2. Persiapan untuk mendongeng:

    1. Pilihlah sebuah cerita yang disukai.

      • Baca cerita ini dan dengarkan.

      • Hafalkan permulaan dan akhir cerita. Kalau ada nyanyian, repetisi, atau kata-kata yang menurut Anda perlu disertakan waktu bercerita, juga perlu dihafalkan.

      • Baca cerita sekali lagi. Perhatikan kecepatan membaca dan penekanannya.

      • Coba mulai mendongeng tanpa melihat buku.

      • Ceritakan kembali tanpa melihat buku, bila ada yang terlupa, bisa dilihat atau dibaca kembali ceritanya.

    2. Setelah itu, cobalah mendongeng untuk diri sendiri ketika sedang mengerjakan sesuatu.

    3. Bayangkan Anda sedang mendongeng.

Tahap Keempat

  1. Siap membacakan cerita karena Anda sudah terlatih.

    1. Tahu di mana berhenti (titik) atau beristirahat (koma).

    2. Selain itu, jangan lupa penekanan cerita dan intonasi serta penjiwaan pembacaan buku.

  2. Siap untuk mendongeng.

    1. Pandanglah pendengar Anda dan beri waktu untuk Anda sendiri agar bisa tenang sejenak.

    2. Mendongenglah. Atur kecepatan, apakah perlu lambat atau cepat.

    3. Percaya diri.

    4. Tenang sejenak setelah mendongeng.

Tahap Kelima

Catat apa saja kekurangan Anda ketika membaca buku atau mendongeng, lalu perbaiki. Catat pula keberhasilan Anda untuk dipergunakan kembali lain kali. Anda boleh mengulang cerita yang sama beberapa kali dengan kelompok lain (untuk mematangkan keterampilan) atau kelompok yang sama, asal tidak terlalu sering.

Kegiatan Setelah Mendongeng

Catatan: mendongeng atau membacakan buku bukanlah suatu diskusi buku (bedakan!).

  1. Beri waktu istirahat sejenak kepada anak setelah mendengarkan cerita.

  2. Setelah mendongeng, tidak selalu harus mengadakan kegiatan kreatif secara langsung, tetapi bisa pada saat berikutnya (Ingat, ini kelebihan Anda sebagai guru karena akan terus berjumpa dengan "audience" Anda).

  3. Berikan contoh beberapa kegiatan yang merangsang kreativitas anak dan apresiasi anak pada sastra, misalnya membuat ilustrasi, menuliskan kembali cerita yang didongengkan, dan sebagainya.

Apa yang Sebaiknya Anda Perhatikan

  1. Tidak menasihati secara eksplisit.

  2. Tidak berlebihan.

  3. Tidak disederhanakan.

Kiat-kiat di atas hanyalah sebuah introduksi. Anda tidak perlu malu atau takut pada "pendongeng" kawakan. Anda juga tidak perlu meniru gaya mereka. Setiap pendongeng mempunyai keunikan sendiri.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Buku, Mendongeng dan Minat Membaca
Judul bab : Sebaiknya Guru Mendongeng
Penulis : Dr. Murti Bunanta, S.S., M.A.
Penerbit : Pustaka Tangga, Jakarta 2004
Halaman : 22 -- 25

Komentar