Menambah Nilai Koleksi Majalah | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Menambah Nilai Koleksi Majalah


Kategori: Kiat-kiat

Warna-warni jepretan foto di atas kertas mengilap dikemas dengan desain grafis yang rapi jali membuat pembaca majalah tidak tega membuang lembaran informasi yang penuh seni. Namun, semakin tingginya tumpukan majalah, membuat pemiliknya kewalahan.

Majalah sebagai salah satu produk media cetak memiliki ciri khas yang unik bila dibandingkan dengan koran, tabloid, bahkan buku. Kualitas kertas yang jauh lebih bagus dari media cetak yang lain membuat majalah lebih tahan lama. Tidak jarang majalah tertentu bisa dijadikan referensi yang tidak cepat kadaluwarsa, misalnya majalah rumah. Semua hal tersebut memang membuat majalah patut untuk dijadikan bahan koleksi. Media cetak ini juga memunyai ongkos cetak yang tinggi sehingga berimbas pada harga jual yang lumayan mahal. Terkadang majalah malah dicap eksklusif karena pangsa pasar pembelinya yang cukup terbatas, baik dari segi segmen pasarnya maupun keterjangkauan daya beli masyarakat. Topik pembahasan majalah semakin lama semakin menyempit, bukan lagi sembarang rangkuman gado-gado yang bisa memenuhi keinginan beragam pembaca. Majalah saat ini penuh kolom bunga rampai dan semakin marak majalah yang hanya mengetengahkan topik spesifik, semisal majalah khusus desain interior, komputer, dunia pakaian, serba-serbi ABG (Anak Baru Gede) atau bahkan permainan anak-anak. Masalah akan muncul ketika minat membaca yang demikian besar membuat rak-rak buku tidak muat lagi menyimpan kumpulan majalah. Terutama bagi para pembaca yang membeli secara berlangganan.

Berikut ini tip-tip yang dapat Anda pakai untuk menjadikan majalah lebih berguna daripada teronggok percuma di tong sampah.

  1. Jual. Menambah nilai ekonomi majalah dengan menjual majalah bekas ke toko buku bekas. Orang lain pun bisa mendapatkan majalah tersebut dengan harga lebih murah. Uang yang didapatkan dari penjualan bisa dipakai untuk membeli majalah baru. Majalah semacam "National Geographic" masih laku dilego dengan harga tinggi.

  2. Donasi. Menambah nilai sosial majalah dengan mendonasikannya ke perpustakaan publik swadaya atau perpustakaan sekolah-sekolah dengan anggaran minim. Apalagi jika majalah yang disumbangkan punya arti akademis seperti majalah komputer, ekonomi, dan majalah remaja/anak-anak.

  3. Kolase. Menambah nilai seni majalah dengan membuat seni kolase (teknik penyusunan karya sastra dengan cara menempelkan bahan-bahan, seperti ungkapan asing dan kutipan, biasanya dianggap tidak berhubungan satu dengan yang lain) dari potongan gambar yang diambil dari majalah. Hampir semua majalah penuh gambar bisa digunting untuk keperluan ini.

  4. Kliping. Menambah nilai akademis majalah dengan pembuatan kliping untuk kepentingan riset pribadi, referensi, ataupun hobi. Contohnya majalah pernikahan, desain interior, dan ekonomi.

  5. Bundel. Bila jika masih dirasa sayang, maka daripada mendaur ulangnya dengan cara di atas kita dapat membundel majalah kesayangan dengan kulit buku keras [bahasa Inggris: hard-cover, Red.] bisa membuatnya lebih ringkas disimpan dan tahan banting. Bagaimanapun, majalah memang diciptakan sebagai pengantar informasi yang cantik dan menarik. Bahkan setelah beberapa waktu, masih enak membolak-balik halaman demi halamannya. Apalagi bila Anda juga turut memberikan kontribusi tulisan di dalamnya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama majalah : MATABACA
Edisi : Vol. 4/No. 7/Maret 2006
Penulis : Aloysius Heriyanto (Alumnus
Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Sanata Dharma)
Halaman : 48

Komentar