Membaca Sekadar Hobikah? | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Membaca Sekadar Hobikah?


Kategori: Artikel

Suatu hari salah seorang guru bertanya tentang hobi setiap siswanya. Rupanya sebagian besar siswa di kelas itu meyakini membaca sebagai hobi mereka yang paling menonjol. Mereka menempatkan olahraga pada urutan berikutnya. Justru salah seorang siswa berbeda pendapat dengan siswa lain. Baginya yang disebut hobi antara lain mengumpulkan perangko, mendengar musik, melukis, sepak bola, dan atletik. Membaca bukanlah hobi, menurutnya hobi adalah sesuatu yang berkaitan dengan pilihan dan keputusan, suka atau tidak suka, berminat atau tidak berminat.

Fakta-fakta berikut ini, kelihatannya membuat banyak orang berani menyatakan bahwa membaca dapat dikatakan hobi. Saya kira sebagian besar para mahasiswa, kalangan profesional maupun anggota masyarakat pun menyatakan hal yang sama. Sepintas lalu memang itulah asumsi umum. Tetapi apakah kita setuju dengan anggapan tersebut? Budaya membaca pustaka belum mengambil tempat atau tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh karya sastra Marah Rusli, Siti Nurbaya, pada terbitan pertama sebanyak 3000 eksemplar, setelah hampir setengah abad kemudian, masih saja diterbitkan dengan oplah yang sama. Berarti animo pembaca terhadap karya sastra pada masa silam lebih tinggi dari masa sekarang. Pada masa itu, jumlah penduduk dan kaum terdidik lebih sedikit dibanding dengan keadaan masa kini, bahkan juga kemajuan ekonomi. Seharusnya dengan kondisi seperti sekarang, buku sastra semacam itu paling tidak sekali terbit berjumlah 30.000 eksemplar. Itu baru suatu kemajuan. Apakah benar, mereka yang hidup dalam alam orde lama lebih bersemangat hidup dan gemar membaca daripada kita? Jika melihat kenyataan bahwa semangat membaca masyarakat berjalan statis, tentu pembaca dapat memahami mengapa perputaran usaha di bidang literatur cukup berat. Ini semua merupakan indikasi bahwa kita masih harus menghadapi tugas besar yakni meningkatkan sumber daya kita dan wawasan generasi mendatang dengan mengembangkan budaya membaca.

Lebih Suka Mengobrol daripada Membaca

Apakah masalah di atas ada kaitannya dengan mitos yang menyatakan bahwa orang Asia lebih suka mendengar daripada membaca? Memang fakta membuka kemungkinan ke arah itu, bahwa kita di Asia (termasuk Indonesia) cenderung mengobrol berjam-jam tanpa merasa bosan. Murid-murid dari suatu perguruan tinggi akan memberi waktu selama berjam-jam mengikuti wejangan gurunya daripada memanfaatkan waktu yang sama untuk membaca. Masyarakat kita juga betah nonton siaran TV hingga larut malam, sedangkan membaca ditinggalkan begitu saja setelah beberapa menit. Bahkan, sisa bacaan itu akan dibiarkan berhari-hari tanpa disentuh sama sekali. Rupanya membaca itu sangat membosankan. Membaca bagi mereka merupakan pekerjaan yang sangat berat. Bagi sebagian orang, antri panjang selama berjam-jam waktu membayar rekening listrik atau telepon tidak dimanfaatkan untuk membaca. Mereka lebih suka merokok, bergurau dengan orang di sampingnya, atau melamun. Padahal masyarakat Barat memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apa pun untuk mencicil bahan bacaan yang memang sengaja dibawa.

Dalam perjalanan beberapa kali dengan Kereta Api (KA) Parahyangan Bandung-Jakarta PP, saya mencoba mengamati para penumpang KA tersebut untuk mendapatkan gambaran masalah membaca di kalangan eksekutif, tua maupun muda. Saya pernah menghitung perbandingan jumlah penumpang yang memanfaatkan waktu luang dalam perjalanan dengan membaca. Waktu itu, kereta penuh sesak dengan para eksekutif, namun dari delapan puluh orang yang ada dalam satu gerbong, hanya lima orang yang memanfaatkan waktu dengan membaca buku. Kebanyakan penumpang lebih suka membaca koran, majalah, tabloid, mengobrol dengan penumpang di sebelahnya, atau diam saja.

Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa budaya membaca tidak tampak kuat di kalangan para eksekutif. Membaca apa saja memang baik, namun alangkah lebih baik kalau membaca karya yang lebih bermanfaat, misalnya buku. Buku adalah media informatif, yang melaluinya kita dapat mempelajari pikiran orang lain, metodologi penulisan, gaya bahasa yang digunakan, cara dia berargumentasi mengenai suatu objek, membandingkan gagasan dan pikiran orang, melihat bagaimana penulis memberi solusi atas suatu problema, atau karya yang membangun wawasan intelektualitas. Dengan membaca bahan bacaan semacam itu, paling tidak kita dapat belajar sesuatu atau menerapkan langsung hasil bacaan itu. Kebiasaan membaca bacaan yang bukan sekadar hiburan akan membentuk gaya berada kita.

Tampaknya membaca buku merupakan masalah yang sangat serius di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kaum terdidik sekalipun sangat minim membaca buku. Masyarakat kita bisa saja membiarkan waktu berlalu tanpa ada sesuatu yang merangsang hidup, dalam arti memanfaatkan waktu untuk membaca. Yang saya maksudkan bukan membaca koran, majalah, atau tabloid, sebab di sana artikelnya lebih terfokus pada kasus-kasus situasional emosional, kriminal, kejahatan, pernak-pernik rumah tangga, ekonomi, dan politik. Yang diharapkan adalah membaca buku, apakah ikut karya sastra, atau pustaka lainnya. Masyarakat negara Jiran, Singapura, menggunakan waktu membaca di mana pun, termasuk dalam perjalanan dengan kendaraan umum.

Kekurangan ini juga dapat kita lihat dalam perjalanan jauh dalam rangka liburan, kunjungan, atau perjalanan khusus. Jarang sekali orang yang menggunakan waktu luang untuk membaca buku. Semua orang seharusnya gemar membaca, paling tidak sekelompok masyarakat yang mengenyam pendidikan setingkat SMP ke atas. Saya tidak meragukan kaum tersisih itu adalah bagian dari masyarakat yang saya kemukakan dalam realitas di atas.

Pada musim-musim ujian akhir, Ebtanas, atau menjelang UMPTN, di angkutan umum (angkot, Bus Kota, kereta api) atau di emperan toko, halaman sekolah, atau kampus, tampak para pelajar atau mahasiswa giat membaca. Mereka membaca bahan pelajaran berupa fotokopi, diktat kuliah, atau buku. Mereka terdorong membaca karena kebutuhan sesaat dan bukan merupakan kegiatan rutin. Perilaku seperti ini sangat jelas terlihat dalam masyarakat kita. Sebagai negara berkembang, membaca sebenarnya merupakan kebutuhan yang sangat mendesak karena hal ini akan memacu hadirnya manusia berkualitas pada masa yang akan datang. Ini suatu tantangan yang harus dijawab, dan tugas ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tugas besar ini justru harus dipupuk dalam institusi rumah tangga.

Hak Anak untuk Mendapat Bahan Bacaan

Menurut Stephen J. Woodhouse, Kepala Perwakilan Unicef Indonesia dan Malaysia, mengatakan bahwa "negara-negara berkembanglah yang harus memenuhi hak-hak anaknya. Hanya dengan memenuhi hak-hak anak, terutama hak untuk pendidikan dan kesehatan serta perlindungan terhadap perlakuan salah, mutu sumber daya manusia dapat ditingkatkan. Dengan peningkatan mutu sumber daya manusia, suatu negara miskin dapat berkembang dan keluar dari kemiskinannya."

Pandangan Woodhouse itu bermuara pada:

  • Peningkatan kualitas manusia,
  • meningkatkan kepercayaan diri, dan
  • memenuhi hak individu akan pengetahuan.

Untuk mencapai tujuan itu salah satu jawabannya ialah meningkatkan keinginan membaca pada generasi penerus, khususnya anak-anak. Karena melalui membaca, wawasan seorang anak akan ditingkatkan baik dalam masalah budaya teknologi, sains, iman, maupun berbagai informasi lainnya. Melalui membaca, ia akan dapat mengembangkan diri menuju tahap yang lebih maju, dan memacu diri setara dengan bangsa lain.

Masalah krisis ekonomi yang melanda Indonesia kelihatannya memiliki kontribusi dalam persoalan memenuhi kebutuhan anak. Salah satu kebutuhan itu ialah meningkatkan sumber daya anak. Banyak keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya akan hal membaca. Apalagi anak-anak yang hidup dalam pengungsian karena kerusuhan seperti di Kalbar, Ambon, Ternate, Aceh atau para pengungsi di Atambua, Kupang, Pontianak, Aceh, dan daerah lain. Mereka jelas akan mengalami ketinggalan dibanding dengan anak-anak dari daerah lain. Siapa yang akan menolong mereka? Kita semua terpanggil untuk menolong meningkatkan sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan akan bacaan bagi generasi penerus bangsa, dengan bersikap tanggap terhadap kebutuhan anak-anak di sekitar kita, bangsa kita, bahkan dalam keluarga kita sendiri agar mereka mengalami kemajuan dan wawasan mereka terbuka ke arah yang sehat, mandiri dan bertanggung jawab.

Membaca Itu Hobi atau Kebutuhan?

Lemahnya masalah membaca di kalangan masyarakat kita, mungkin disebabkan adanya asumsi yang mengatakan bahwa membaca itu sebagai hobi kurang tepat atau keliru. Karena hobi maka membaca tidak tampak jelas dimensinya dalam realitas sosial, masyarakat kita. Kalau membaca hanya sekadar hobi, hal ini jelas tidak memberi rangsangan apa-apa karena hanya hobi, sehingga tidak menantang saya. Kalau membaca itu hanya sebatas hobi, maka kapan saja saya lakukan, apakah dua kali seminggu atau bahkan dua kali sebulan, ya karena hobi. Hal itu tidak jadi soal.

Tetapi kalau membaca ditempatkan pada konteksnya, maka membaca sebenarnya merupakan suatu upaya memberi makan akal budi seseorang. Membaca itu mutlak bagi manusia sama seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Membaca bukanlah kebutuhan mewah yang ditempatkan pada skala yang khusus. Membaca adalah kewajiban sekaligus tanggung jawab kita dalam memelihara akal budi dan meningkatkan pengetahuan atau wawasan intelektual.

Sebagai anggota masyarakat yang berbudaya, saya harus membaca dan membaca. Saya akan lapar, mengalami kekeringan ilmu atau informasi kalau saya lalai membaca. Saya membaca, berarti saya memberi makan akal budi saya, karena saya tahu bahwa membaca adalah kebutuhan pokok manusia yang berbudaya. Saya akan miskin mengenai pengetahuan karena saya menempatkan masalah membaca hanya sekadar hobi.

Mungkin salah satu penyebab lemahnya penempatan posisi membaca adalah karena masyarakat kita menganggap membaca hanya sekadar hobi. Hobi berkaitan dengan pilihan atau keputusan. Hobi saya membaca, maka kalau saya melakukan atau tidak itu urusan pribadi yang tidak merugikan saya. Kalau saya mengambil keputusan untuk tidak membaca, maka saya tidak akan merugikan siapa pun.

Tidak demikian halnya jika kita menganggap membaca sebagai suatu keharusan atau sebagai kebutuhan mutlak bagi makhluk berbudaya, maka kita akan bersikap lain. Jika kita tidak membaca, maka kehidupan ini bagai burung dalam sangkar. Setiap hari hanya menunggu kebaikan pemilik entah kapan akan diberi makan atau minum. Hal ini tentu saja amat menyakitkan karena hidup kita diprogram oleh orang lain. Memberi makna pada tugas membaca sebagai kebutuhan dasar akan sangat menolong seseorang bebas berpetualang dalam dunia literatur guna mencari makanan segar dan sehat bagi tubuh dan jiwa.

Jika demikian, membaca seharusnya bukan sekadar hobi, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia. Salah satu ciri masyarakat berbudaya adalah masyarakat yang rajin membaca. Suatu kelompok masyarakat yang menempatkan membaca sama seperti halnya kebutuhan pokok lainnya jelas akan mengubah paradigmanya tentang membaca.

Membaca itu suatu kebutuhan sehingga jika Anda tidak melakukannya akan sangat mengganggu aktivitas dan intelektualitas diri Anda sendiri. Membaca itu berkaitan erat dengan pemuasan akal budi. Betul bahwa akal budi memegang peranan penting dalam kehidupan seseorang, sebab jika intelektual seseorang itu tidak dipacu, maka dengan sendirinya akan memadamkan kreativitas dari akal budi itu sendiri.

Membaca sesungguhnya merupakan ciri sekaligus kebutuhan sentral manusia yang berbudaya. Itulah sebabnya, membaca sama pentingnya dengan mendandani tubuh dengan busana budaya. Hal yang sama berlaku dalam akal budi atau lebih tepat keberadaan manusia. Akal budi membutuhkan makanannya sendiri, yakni membaca dan membaca.

Diambil dari:

Judul buletin : Sahabat Gembala, Agustus/September 2000
Penulis : Sostenis Nggebu
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2000
Halaman : 28 -- 33

Komentar