Melihat Dunia dengan Membaca | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Melihat Dunia dengan Membaca


Kategori: Artikel

Penulis: Niken Syahirul

Budaya membaca dalam kurun beberapa waktu terakhir agaknya semakin terkikis, bahkan hilang dari kehidupan masyarakat. Ini merupakan kondisi yang memprihatinkan. Betapa tidak? Membaca adalah kegiatan yang sangat penting.Dengan membaca orang memperluas pengetahuan dan wawasan akan berbagai hal.

Membaca membuka pintu bagi orang untuk melihat dunia yang lebih luas. Sehingga orang tidak terkungkung dalam wilayah sempit yang terbatas pada lingkup rumah tangga, tempat kerja/kantor. Bagi anak-anak, kegiatan membaca juga akan menghindarkan mereka dari rutinitas kegiatan sekolah yang melelahkan.

Begitu pentingnya membaca, sehingga negara-negara maju berusaha sekuat tenaga untuk membuat warganya terbiasa membaca sejak kecil. Di Amerika, misalnya, untuk menggalakkan budaya membaca, seluruh murid di sebuah taman kanak-kanak (TK)setiap hari dipinjami sebuah buku untuk dikembalikan keesokan harinya untuk ditukar dengan buku yang lain.

Padahal kebanyakan anak TK belum lancar membaca. Dalam hal ini, menjadi tugas orang tua untuk membacakan isi buku tersebut kepada anak. Pada satu sisi, melihat sistem yang demikian bisa dibayangkan berapa jumlah buku di sekolah. Yang pasti tidak sedikit. Namun, itu dilakukan untuk membiasakan anak membaca sejak kecil.

Menurunnya budaya membaca agaknya tidak bisa dilepaskan dari kondisi riil dalam masyarakat. Tidak banyak sekolah, apalagi sekolah negeri, yang memunyai perpustakaan dengan koleksi buku yang memadai dan berkualitas. Lingkungan membaca pun tidak diciptakan agar bisa membuat seorang anak mau berlama-lama memelototi sebuah buku. Maraknya siaran televisi dengan prinsip "menghibur sampai mati" memperparah turunnya budaya membaca dalam masyarakat. Televisi menjadi pelarian anak yang sudah sangat sibuk dengan urusan sekolah.

Sudah menjadi tugas kita semua untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sejak anak masih kecil. Pemerintah jangan hanya melakukan promosi budaya baca melalui kegiatan pencanangan budaya baca secara seremonial, namun tidak terasa realisasinya. Penerbit harus banyak menerbitkan buku yang menarik agar anak mau membuka buku dan menjadikannya sebagai sahabat sehari-hari. Dalam hal ini, kreativitas dari pengarang merupakan tuntutan. Sementara guru dan orang tua harus terus mendorong anak untuk giat membaca.

Membaca harus dijadikan sebagai kebutuhan. Lingkungan untuk membaca harus diciptakan di sekolah dan keluarga. Lengkapi perpustakaan rumah dan sekolah dengan koleksi buku yang memadai dan berkualitas. Agar anak mau membaca, orang tua perlu menciptakan jam membaca di rumah. Pada jam tersebut, televisi dimatikan. Sebagai gantinya, seluruh anggota keluarga diwajibkan membaca.

Sumber : SOLOPOS

Komentar