Melayani Mereka yang Menghilang dari Gereja | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Melayani Mereka yang Menghilang dari Gereja


Kategori: Kesaksian Pembaca

Ditulis oleh: Mahardhika Dicky K.

Pintu depan gereja melambangkan jalan masuk bagi jemaat baru, sedangkan pintu belakang gereja menggambarkan jemaat lama yang pergi, menghilang dari gereja. Tampaknya, itulah yang mendasari pemilihan judul untuk buku ini.

Pernahkah kita memerhatikan wajah-wajah yang telah menghilang dari acara ibadah raya di gereja kita? Jika gereja kita memiliki banyak anggota, memang cukup sulit melakukannya. Sebaliknya, gereja kecil dengan jemaat yang sedikit, hal ini mungkin akan lebih mudah. Akan tetapi, baik di gereja besar maupun kecil beberapa orang sering memandang negatif jemaat yang tanpa alasan dan tanpa pamit menghilang dari gereja. Padahal, justru saat itulah mereka membutuhkan kehadiran kita untuk melayani kebutuhan mereka. Hal inilah yang menjadi inti pembahasan penulis buku ini.

Statistik menunjukkan bahwa rata-rata 30-35 persen jemaat di satu gereja dapat digolongkan sebagai jemaat pasif (inactive member). Definisi jemaat pasif adalah jemaat yang tidak lagi ikut serta secara aktif dalam menghadiri acara kebaktian, memberi persembahan, dan mengikuti program-program gereja. Jemaat pasif berbeda dengan jemaat yang tidak mampu terlibat secara aktif. Kelompok yang terakhir ini tidak punya pilihan karena adanya beberapa faktor yang membuat mereka tidak mampu terlibat secara aktif dalam sebuah gereja asalnya, misalnya usia yang terlalu tua, cacat tubuh yang mengharuskan untuk terus berbaring sepanjang hari, fobia akut, dinas militer, atau kuliah di luar kota. Sebaliknya, jemaat pasif memiliki kesempatan untuk beribadah, namun mereka tidak mau melakukannya.

Ketika membaca buku ini, saya diingatkan tentang cara pandang saya terhadap jemaat pasif selama ini. Saya tergolong orang yang lebih sering menghakimi mereka sebagai orang-orang yang malas, tidak peduli dengan gereja, dan menjadi beban bagi jemaat lainnya. Saya disadarkan ternyata tanggapan seperti itulah yang justru tidak ada gunanya dan bukan sesuatu yang benar. Melihat hal itu, kita seharusnya mulai belajar untuk menempatkan diri kita dalam kondisi mereka. Jemaat pasif membutuhkan perhatian, bukan penghakiman. Mereka ingin dikunjungi, bukan dijauhi.

Kadang kita sering keliru dalam mengunjungi jemaat pasif. Kita biasanya cenderung melakukan pendekatan yang mengarah pada hasil (result oriented), bukan yang mengarah pada proses (process oriented). Para pembesuk lebih sering ingin tahu alasan jemaat pasif menghilang dari gereja, lalu mengundang -- bahkan menyuruh -- mereka untuk kembali bergereja. Padahal, jemaat pasif ingin saudara-saudara seimannya tahu kebutuhan mereka dan membantu mereka memenuhi kebutuhan itu. Pada prinsipnya, 'process oriented' memberikan hasil yang sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak, sedangkan 'result oriented' justru lebih sering merugikan keduanya.

Secara umum, penulis buku ini menjabarkan tujuh langkah gereja untuk melakukan pelayanan bagi jemaat pasif. Langkah-langkah itu adalah: (1) Pray: berdoa meminta hikmat Tuhan; (2) Decide: memutuskan untuk mengawali pelayanan; (3) Plan: merencanakan pelayanan; (4) Publicize: mengumumkan pelayanan ini kepada jemaat gereja; (5) Train: memberi pelatihan bagi orang-orang yang terpanggil untuk melayani jemaat pasif; (6) Involve: mulai mengunjungi dan berhubungan dengan jemaat pasif; (7) Support: melakukan evaluasi pelayanan sambil berbagi kisah pelayanan dan saling mendukung.

Menurut saya, buku ini sangat bermanfaat bagi pembangunan Tubuh Kristus. Saya belajar untuk tidak memandang seseorang sebagai 'anggota jemaat pasif', melainkan mendekatinya dan mengasihinya sebagai 'pribadi beridentitas'. Memang, mendekati mereka dengan sasaran proses memerlukan kesabaran, ketulusan, dan ketekunan yang belum tentu bisa kita lihat hasilnya dengan kembali hadirnya mereka di gereja. Akan tetapi, justru dengan melakukan pendekatan seperti itu kita menerapkan kasih Kristus yang sebenarnya.

Saya merasa diberkati setelah membaca buku ini. Berbagai tip dan pelajaran tentang pelayanan bagi jemaat pasif disampaikan penulis dengan metode tanya jawab. Dengan demikian, saya seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan penulis tentang perlunya memiliki kerinduan untuk melayani jemaat yang menghilang dari gereja. Selain itu, beberapa kasus juga diulas secara khusus, seperti cara kita berkomunikasi dengan jemaat aktif yang pasangannya tidak pergi ke gereja, jemaat yang pindah gereja, bahkan jemaat yang pindah agama.

Akhir-akhir ini saya mencoba menjalin komunikasi dengan teman-teman yang mulai jarang ke gereja (terindikasi pasif). Memang sulit untuk menahan godaan tidak menyinggung masalah kebaktian ketika 'ngobrol' dengan mereka. Apalagi mengobral ayat lewat sms kepada mereka. Namun satu hal penting yang saya ingat setelah membaca buku ini adalah mereka tidak butuh ayat-ayat itu. Sayalah yang membutuhkan ayat-ayat itu untuk mengingatkan saya terhadap motivasi saya melayani mereka dan menguatkan saya untuk tekun melakukannya. Tuhan ingin saya mendatangi mereka bukan sebagai pihak yang kuat untuk menegur yang lemah (secara rohani), tetapi sebagai sesama saudara seiman, yang sama-sama belajar bertumbuh dalam kasih-Nya melalui setiap obrolan kami. Ketika kita menghargai proses dalam melayani jemaat pasif, Tuhan Yesus akan bekerja untuk menyempurnakan hasilnya.

Sungguh buku yang sangat bermanfaat dan pantas untuk dibaca. Silakan mencoba!

Informasi buku:

Judul buku : Reopening the Back Door
Penulis : Kenneth C. Haugk
Penerbit : Tebunah Ministries, Missouri 1992
Ukuran buku : 14 x 21,5 cm
Tebal : 192 halaman

Komentar