Literatur Kristen Lebih Penting Daripada Bangunan Gedung Gereja | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Literatur Kristen Lebih Penting Daripada Bangunan Gedung Gereja


Kategori: Artikel

Penyusun ulang: Sri Setyawati

Keberadaan literatur Kristen di Indonesia, bisa dikatakan tidak sepopuler jika dibandingkan dengan literatur-literatur sekuler. Namun, kita patut bersyukur karena keberadaan literatur Kristen saat ini, sudah menunjukkan eksistensinya bahkan semakin berkembang.

Saat ini kita akan mengorek tentang literatur Kristen dari sudut pandang seorang hamba Tuhan. Sebagai seorang pendeta, Peter Wongso tidak hanya rindu memberitakan kebenaran Allah melalui khotbah-khotbahnya, namun ia juga ingin terlibat dalam dunia literatur. Seperti apakah literatur Kristen dalam kacamata seorang Peter Wongso? Menurut beliau, literatur Kristen mengandung tiga makna. Pertama, selain melalui perantara (nabi), Allah juga mengomunikasikan kehendak-Nya melalui tulisan (Alkitab). Adapun tujuannya adalah supaya manusia dari generasi ke generasi dapat mempelajari firman Tuhan dengan bahasa yang dimengerti. Selanjutnya pembelajaran firman Tuhan yang dimaksud diharapkan membuahkan pengenalan akan kehendak-Nya dan menjadikannya sebagai prinsip dalam kehidupan. Kedua, literatur Kristen dengan segala wacana dan penggolongannya dalam perjalanan sejarah gereja dan kehidupan manusia, telah banyak memberi sumbangsih dalam pembentukan dasar, konsep, pedoman iman, dan kelakuan. Ketiga, literatur Kristen memunyai pengaruh yang melampaui zaman. Pemikiran teolog-teolog besar dalam sejarah dapat kita pelajari dan terus dapat dikaji melalui karya mereka. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Peter Wongso memiliki beban untuk terus belajar bahkan menulis berbagai buku. Bagi dia, literatur Kristen lebih penting daripada bangunan gedung gereja.

Usut punya usut, pelayanan Peter Wongso di dunia literatur berawal sejak bulan Juli 1951, saat beliau diselamatkan Tuhan. Sejak saat itu, kerinduannya untuk melakukan penginjilan pribadi semakin kuat. Pengalamannya menginjil di berbagai daerah pun, mengusik hatinya untuk mengabarkan Injil melalui tulisan yang dicetak dan didistribusikan seperti koran. Kerinduan beliau akhirnya terwujud! Tulisan-tulisannya digunakan untuk pekabaran Injil. Tulisannya yang semula beroplah 5.000 eksemplar terus meningkat menjadi 18.000 eksemplar. Bahkan tulisannya tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia tapi juga bahasa Mandarin. Sementara itu, karena ketekunannya membaca dan mengadakan analisa Alkitab, Peter Wongso dapat menghasilkan berbagai naskah khotbah. Kesungguhan Peter Wongso dalam bidang literatur pantas diacungi jempol. Di sela-sela kesibukannya dalam proses belajar-mengajar di sebuah universitas, beliau tetap menyediakan waktu untuk menulis diktat dan menerjemahkan buku-buku dari bahasa Inggris ke bahasa Mandarin. Begitulah kronologi pelayanannya dalam bidang literatur yang masih terus beliau kembangkan hingga saat ini. Dari jerih payahnya itu, beliau berhasil menulis diktat yang kemudian diterbitkan sebanyak 49 eksemplar. Ia juga menulis 29 buku berbahasa Indonesia dan 43 buku berbahasa Mandarin. Selain itu, ia juga telah menerjemahkan 23 buku. Banyak juga artikel-artikel lain yang tersebar dalam berbagai bahasa.

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, Peter Wongso menggali sumber-sumber tulisannya dari Alkitab. Beliau percaya bahwa Alkitab memiliki kewibawaan yang cukup untuk menjawab seluruh problematika dalam kehidupan manusia. Boleh dikatakan Alkitab adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki cakupan dimensi yang sangat luas, apakah itu soal peperangan, kekerasan, seks, arti hidup, pekerjaan, uang, dan sebagainya. Karena itu, tidak mengherankan jika karya-karyanya berpengaruh banyak bagi pembaca-pembacanya. Beberapa di antaranya, orang Tionghoa di Jepang yang bertobat setelah membaca tulisannya mengenai tujuh surat untuk gereja-gereja di Asia kecil, pada tahun 1961. Dr. Felix Liu, yang mendapat dorongan untuk menetapkan panggilan Tuhan, kemudian menyerahkan diri untuk menjadi pelayan Tuhan, dengan membaca karya terjemahannya dari buku karangan Oswald Smith. Beberapa mahasiswa dari Cina yang belajar di Australia, menyaksikan pertobatannya setelah membaca dan mempelajari buku "Dasar-dasar Iman Kristen" darinya, dan banyak pendeta dan gereja yang memakai buku tafsirannya sebagai bahan khotbah dan PA.

Bagi Peter Wongso persinggungan dan perjumpaannya dengan kebenaran dalam Alkitab selalu membuahkan satu hal: sukacita! Kemudian tatkala kebenaran tersebut dituangkannya dalam bentuk tulisan, dibaca, dan menjadi berkat, ada kepuasan yang tidak dapat dinilai dengan apa pun. Luar biasa!

Anda sudah banyak membaca buku dan rindu membagikan berkat kepada orang lain melalui tulisan Anda? Berikut kiat yang dibagikan Peter Wongso. Pertama, menurut Peter Wongso, seorang penulis Kristen harus mengalami kelahiran baru. Kedua, memiliki sikap dan ketekunan dalam membaca Alkitab. Ketiga, terus mengembangkan wawasan dengan mengasah pikiran dan membaca berbagai buku dari pelbagai disiplin ilmu. Keempat, rajin menulis dan memublikasikannya walau awalnya mungkin tidak lancar. Kelima, mengenali tulisan seorang penulis melalui karya tulisannya secara utuh, baik pada usia muda, paruh baya, dan lansia. Selain itu, pertahankan kerajinan dan kedisiplinan, rajin mengamati dan mengumpulkan bahan-bahan tulisan, dan disiplin dalam menuliskannya sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan.

Bertolak dari uraian di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pelayanan dan pewartaan Injil bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai macam media, termasuk literatur. Apalagi zaman sudah banyak berubah. Konteks pelayanan pun berkembang dengan cepat. Jadi, jika kita tidak ingin gereja kita menjadi "besi tua", kita harus memikirkan "kemasan-kemasan" pelayanan yang relevan dan "up to date", salah satunya lewat literatur.

Diambil dan disusun ulang dari:

Judul buku : Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus yang Melintasi
Zaman
Judul : Literatur Kristen Lebih Penting daripada
artikel Bangunan Gereja
Penulis : Peter Wongso
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang
2002
Halaman : 223 -- 227

Komentar