Keterkaitan Penerbit dan Penulis Cilik | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Keterkaitan Penerbit dan Penulis Cilik


Kategori: Artikel

Tidak dapat disangkal bahwa bertumbuhnya minat baca dan tulis pada anak-anak berbarengan dengan kehadiran para penulis cilik. Pembaca anak-anak pun kini berperanan cukup penting di dunia literatur. Mereka tidak lagi menjadi objek yang dijejali kisah-kisah karya orang dewasa. Kini mereka bisa menikmati, bahkan menulis sendiri kisah-kisah dunia keseharian mereka yang lebih lengkap dengan emosi yang dialami oleh anak-anak sendiri. Bentuknya sudah meninggalkan pakem "cerita nenek" yang, menurut Anasrullah dari Penerbit Liliput Yogyakarta, merupakan sebuah "lompatan sejarah" dalam revolusi kepustakaan anak yang kini mulai meretas.

Bukan "Mesin Uang"

Pertimbangan yang lebih mendasar untuk menerbitkan buku penulis cilik bukan sekadar menjadikan mereka "mesin uang". Pemaksaan dan pemberian target kepada anak bukanlah jalan terbaik. Penerbit seharusnya tidak melihat hal ini sebagai peluang bisnis semata. Kita sebaiknya lebih menganggapnya sebagai indikator makin membaiknya pendidikan kepenulisan, yang biasanya tercakup di dalam pelajaran bahasa Indonesia. Penerbitan buku-buku seyogianya dilakukan sebagai dorongan untuk menumbuhkan minat menulis masyarakat umum. Sasaran yang tepat juga membuka peluang anak-anak berkeinginan untuk menulis. Namun demikian, kekuatan karakter penulis dan materi tulisan penulis cilik tetap dijadikan pertimbangan penting.

Orang tua dapat memberikan bacaan kepada anaknya agar membangkitkan daya kreatif anak. Dari sudut pandang anak-anak, karya penulis cilik lebih dapat diterima karena lahir dari perkembangan psikologis mereka. Mereka [lebih memilih] fantasi murni anak-anak yang dikomunikasikan secara langsung dengan bahasa anak-anak oleh anak-anak yang seusia mereka.

Lingkungan dan Orang Tua

Maraknya perkembangan karya sastra penulis cilik terkadang terkesan dieksploitasi. Peran penerbit dan orang tua menjadi sangat penting karena tidak jarang karya seorang anak ditulis dengan sangat mentah. "Jika penerbit mengabaikan materi dan hanya menjual sisi kekanak-kanakan semata, eksploitasi anak itu benar-benar sudah terjadi. Jika penerbit berbenah dan berkomunikasi dengan penulis, penerbitan karya sastra anak justru mampu dijadikan ajang pembinaan bakat penulis-penulis muda," terang Anas dari Penerbit Liliput.

Saat mendapatkan naskah dari Izzati, Indah dari Gramedia memberikan perlakuan yang sama seperti buku-buku karya asli lain. Penyuntingan dilakukan tidak sebatas masalah teknis penulisan, tetapi juga menyangkut isinya. "Masalah memang sempat timbul karena bagaimanapun mereka adalah anak-anak dengan logika berpikirnya sendiri, sesuatu yang sangat unik tetapi bisa jadi tidak sesuai dengan realita. Dengan bantuan orang tuanya dan Izzati sendiri yang sangat pengertian, kami dapat berdiskusi dan mencapai kesepakatan," terang Indah.

Keuntungan bagi penulis cilik berbakat seperti Arifia Sekar Seroja, yang kebetulan berorang tua pakar bahasa. Yogi S. dari Penerbit BIP melihat partisipasi mereka sebagai bagian proses yang wajar. Katanya, "Orang tua Sekar membantu proses penyuntingannya, meskipun intervensi mereka tidak terlalu banyak dalam tulisan itu. Saya sendiri sudah melihat karangan asli sebelum disunting." Yogi sering membandingkan naskah asli tulisan Sekar dengan naskah yang sudah "dipoles" orang tuanya. Dari sini terlihat kemampuan anak itu sendirilah yang menentukan kelayakan karyanya diterbitkan.

Demikian juga Penerbit Alenea yang mendulang sukses berkat novel fantasi "Skinheald" karya Ataka (baca juga: "Aku Bosan, Aku Menulis"). Erwin sebenarnya mengamati banyak penulis cilik ternyata berpotensi melahirkan karya sastra bermutu, "hanya mereka kurang percaya diri untuk memunculkan karyanya karena kurangya dukungan dari lingkungan sekitarnya." Terbitnya karya Ataka sendiri lahir dari "ketidaksengajaan" sejak orang tuanya memberikan fasilitas komputer. Dengan dukungan akademis, Ataka yang berlatih komputer dan menghasilkan sebuah karya itu, kini sedang bersiap menerbitkan serial lanjutan, "Skinheald #2".

Tidak dielakkan lagi dalam beberapa waktu mendatang, kita akan menyaksikan serbuan penulis-penulis baru berusia dini. Tidak ada salahnya jika penerbit mulai memikirkan mereka sebagai benih-benih yang berpotensi menjadi penulis besar. Walaupun demikian, mereka tetaplah anak-anak; mereka masih membutuhkan penanganan secara intensif. Jika kelak banyak penulis cilik yang menulis, bagaimana cara menolak serbuan naskah yang "tidak layak" terbit? Bagaimana jika orang tua berlaku mengeksploitasi anak-anak melampaui kemampuan mereka? Atau, bagaimana dengan penulis berbakat yang membutuhkan penanganan lanjutan?

Seharusnya, penerbit bisa memaksimalkan kehadiran para penulis cilik dan tidak sekadar melihat mereka sebagai tren semata. Dengan demikian, para penulis cilik bisa menjadi penutur kisah bagi teman-teman sebayanya. [Bagi orang tua], tidak ada salahnya untuk mengajak anak-anak mengunjungi lembaga penerbitan dan menjadikannya sebuah tempat bermain yang baru sekaligus tempat untuk berkreasi.

Diambil dan diringkas dari:

Judul majalah : MATABACA
Edisi : Vol. 4/No. 7/Maret 2006
Penulis : Gallus Borodino
Halaman : 14 -- 15

Komentar