Common Roots: A Call To Evangelical Maturity | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Common Roots: A Call To Evangelical Maturity


Kategori: Pemuridan, Gereja/Pendeta, Resensi Buku Cetak, Resensi Buku Online

Judul buku : --
Judul asli : Common Roots: A Call To Evangelical Maturity
Penulis/Penyusun : Robert E. Webber
Penerjemah : --
Editor : --
Penerbit : Zondervan, 1982
Ukuran buku : --
Tebal : 256 halaman
ISBN : --
Buku Online : --
Download : --
Sumber : Jurnal Pelita Zaman 1986

Sesuai dengan tema besar penerbitan jurnal Pelita Zaman kali ini yaitu Mengenal Pandangan Injili, maka tinjauan buku ini menjadi sangat relevan. Karena tujuan dari penulisan buku ini sendiri ada dua, yang pertama mencari akar yang sama di antara sekian banyak aliran yang menyebut dirinya Injili, dan yang kedua sebagai konsekuensi dari yang pertama, yaitu panggilan untuk kembali kepada kekristenan yang bersejarah.

Banyak aliran atau gereja yang seolah-olah "demam" dengan label Injili, tidak sedikit yang sebetulnya tidak mengerti apa latar belakang dan makna pemakaian istilah tersebut. Ada yang mempersempit istilah Injili sehingga seolah-olah ingin memonopoli istilah tersebut, hanya denominasiku saja yang berhak memakainya, sebaliknya ada yang memperluas istilah Injili sehingga tidak mempunyai arti yang khas lagi.

Sebenarnya pengaruh individualisme dan eksistensialisme sangat kuat dalam kehidupan umat kristiani. Akibatnya kita lihat terjadinya perpecahan gereja di sana sini tanpa alasan yang jelas dan prinsipil. Mereka seolah-olah berpikir "pokoknya saya punya Alkitab, toh ada Roh yang memimpin", dan "Saya ada uang untuk membangun gereja". Dengan demikian, gereja menjadi independen dan terlepas dari akar sejarahnya sama sekali. Robert Webber menyebut hal ini sebagai "evangelical amnesia", penyakit lupa terhadap masa lampau. Kelompok Injili tersebut seolah-olah lupa bahwa proses terjadinya kanon Alkitab dalam bentuk yang sekarang baru disahkan pada tahun 397 yaitu dalam konsili di Kartago. Jelas sekali peranan gereja mula-mula sangat penting di dalam menyeleksi tulisan-tulisan yang dimasukkan dalam kanon, gereja mula-mula percaya bahwa merekalah yang menurunkan "suksesi apostolik" (apostolic succession, lihat Efesus 2:20). Reformasi pun sebetulnya suatu panggilan kembali pada kekristenan yang bersejarah, sebab di situlah akar keuniversalan gereja. Namun, kelompok Injili yang independen tersebut mengacuhkan hal tersebut, dengan mudah mereka merasionalisasikan panggilan oikumene gereja (Yohanes 17:21) sebagai kesatuan dalam Roh, padahal satu dengan yang lain tidak ada kerja sama, bahkan "saling menyerang".

Pada halaman 32, Webber merangkum sebanyak 14 aliran yang menurut dia, semuanya dapat dikategorikan sebagai Injili, tetapi justru di antara mereka saling menyerang misalnya Fundamentalis vs Neo Evangelical, Konservatif vs Progresif, Non-Karismatik vs Karismatik, Covenantalis vs Dispensasionalis, Arminian vs Calvinis, Premil vs Amil, dan seterusnya. Sikap-sikap yang demikian inilah menurut Webber sebagai sikap Injili yang belum dewasa. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dibedakan antara "faith" dan "formulation". Webber mengartikan "faith" di sini sebagai suatu sari iman kepercayaan, yang mutlak kita yakini sebagai kredo. Sedangkan "formulation" adalah pemikiran teologis yang dikembangkan manusia di dalam konteks dan latar belakangnya pada zaman tertentu tersebut. Agustinus mempunyai sistem pemikirannya sendiri, demikian juga dengan Luther, Calvin, Arminius, Menno Simons, dan yang lainnya. Dengan mengakui bahwa kita satu dengan yang lain karena kita adalah anggota satu Tubuh, melalui kasih, pengertian, kesabaran dan penerimaan, kita perlu saling belajar dan saling mendukung baik di dalam perbedaan maupun di dalam kesamaan yang ada. Hanya dengan mengakui bahwa teologia adalah pemikiran manusia tentang kebenaran, barulah kita bisa membangun satu dasar di mana kesatuan dan perdamaian di antara Injili bisa terwujud.

Panggilan kepada suatu akar yang sama dan kepada suatu kedewasaan di kalangan Injili memerlukan suatu tekad dan pembaharuan di dalam lima aspek, yaitu:

  1. Gereja suatu pembaharuan mengenai hakekat gereja, baik lokal maupun universal. Apakah makna sesungguhnya menjadi gereja?

  2. Ibadah - suatu pembaharuan mengenai makna dan bentuk ibadah Kristen. Bagaimana gereja bisa menjadi suatu komunitas yang beribadah?

  3. Teologia - suatu pembaharuan mengenai dasar kebenaran yang fundamental dari kekristenan yang konfensional. Bagaimana gereja memikirkan mengenai apa yang ia percayai?

  4. Misi - suatu pembaharuan mengenai misi dasar dari gereja. Apa tujuan gereja berada di dalam dunia?

  5. Kerohanian - suatu pembaharuan mengenai kehidupan devosional gereja terhadap Tuhannya. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang rohani dalam arti yang sesungguhnya?

Pembaharuan dalam lima aspek itulah yang menjadi pokok pembahasan Webber dalam keseluruhan bukunya. Secara umum dapat kami katakan bahwa buku tersebut membuka suatu cakrawala yang lebih luas bagi kaum Injili, yang sering kami katakan mempunyai mental yang belum "siap tinggal landas". Namun, ada beberapa hal yang memberi kesan dibahas terlalu terburu-buru atau terlalu umum sifatnya, tetapi dari segi lain kami pikirkan mungkin tujuan penulis memang hanya merupakan himbauan umum terhadap kaum Injili, sehingga menghindarkan hal-hal yang detail. Akan tetapi sekali lagi, buku ini perlu dibaca khususnya bagi kaum Injili yang sedang menggalakkan dan meningkatkan dirinya baik dalam segi akademis, maupun kualitas pelayanannya.

Peresensi: Lily L. Efferin

Komentar