Buku = Jantung dan Pilar Media Cetak | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Buku = Jantung dan Pilar Media Cetak


Kategori: Artikel

Dalam arti yang luas, buku mencakup semua tulisan dan gambar yang ditulis dan dilukis atas segala macam materi, seperti papirus, lontar, perkamen, dan kertas dengan berbagai macam bentuknya. Ada yang berbentuk gulungan, dilubangi, diikat, atau dijilid.

Buku merupakan hasil dari perekaman dan perbanyakan (multiplikasi) yang paling populer. Berbeda dengan media cetak lain, seperti majalah, koran, dan tabloid, buku dirancang untuk dibaca dengan tidak terlalu memperhatikan aspek kebaruannya karena waktu terbitnya tidak begitu memengaruhi.

Buku ialah alat komunikasi berjangka waktu panjang dan mungkin sarana komunikasi yang paling berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Di dalam buku dipusatkan dan dikumpulkan hasil pemikiran dan pengalaman manusia daripada sarana komunikasi lainnya. Sebagai alat pendidikan, buku berpengaruh pada anak didik daripada sarana-sarana lainnya (Ensiklopedi Indonesia, hlm. 538-539).

Karena fungsi dan peranannya yang sangat sentral di dalam mengomunikasikan, mendokumentasikan, serta menyebarluaskan hasil pemikiran (dan budaya) manusia, buku disebut sebagai inti dan pilar media cetak. Tidak ada media cetak lain, selain buku, yang begitu lama dan tinggi kandungan nilai hasil olah pikir dan olah budaya manusia di dalamnya. Itulah sebabnya, di dalam membuat karya tulis (makalah, skripsi, tesis, disertasi atau menulis buku), referensi dari buku menjadi sangat tinggi nilai ilmiahnya dibandingkan sumber dari media cetak lainnya.

Potensi Pasar Buku di Indonesia

Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, semestinya Indonesia menjadi lahan bisnis buku yang sangat subur. Sayangnya, potensi luar biasa itu belum sepenuhnya bisa diaktualisasikan.

Persoalannya banyak sekali. Mulai dari masih rendahnya minat baca dan daya beli masyarakat, transportasi antarpulau yang belum sepenuhnya lancar sehingga berakibat pada ongkos pengiriman, langkanya para penulis, masih kurang dihargainya profesi penerbit, hingga masalah mahalnya harga kertas dan biaya cetak. Semua itu tali-temali, yang menyebabkan bisnis buku dari dulu hingga kini kembang kempis.

Meski kondisi umum demikian, kita menyaksikan masih banyak penerbit buku yang sejak berdiri puluhan tahun lalu, hingga kini masih tetap eksis. Bahkan, dari tahun ke tahun terus-menerus menaikkan jumlah produksinya. Tidak hanya penerbit yang tergabung dalam perusahaan induk dengan usaha pokok percetakan dan penerbitan, penerbit buku milik keluarga dan pribadi pun terus maju dan berkembang.

Jakarta adalah lokasi paling subur bagi penerbit mendirikan basis. Namun, seiring dengan otonomi daerah dan semakin membaiknya perekonomian nasional, di daerah-daerah pun banyak penerbit bercokol. Kota-kota besar di Jawa menduduki posisi kedua setelah Jakarta, menyusul kota besar lain di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian, dan NTT.

Sejak buku pertama dikenal di Nusantara, minat baca yang minim dan daya beli yang rendah tetap ditunjuk sebagai alasan mengapa orang tidak membeli buku.

Di era 1970-an, ketika televisi, radio, dan film mulai masuk ke dalam kehidupan masyarakat, pengaruh media elektronika dianggap sebagai biang mengapa orang malas membaca. Dekade 1980, 1990, hingga memasuki milenium baru, pengaruh televisi tetap yang paling pokok disebut-sebut sebagai faktor yang memengaruhi budaya baca masyarakat.

Meskipun media cetak, termasuk buku, lebih dulu hadir sebagai produk budaya, pengaruh media elektronika merasuk kehidupan umat manusia tidak dapat dibendung. Gejala umum menunjukkan, dalam konfigurasi perilaku konsumen terhadap media, maka buku menduduki posisi paling bawah.

Hierarki kebutuhan masyarakat terhadap media, sebagai berikut:

  1. televisi;
  2. radio;
  3. surat kabar;
  4. majalah;
  5. buku.

Televisi itu "rakus", demikian kata para pakar. Hal itu karena kehadiran televisi serta merta memengaruhi pola hidup dan pola konsumsi masyarakat. Semakin ke bawah, semakin sedikit pula konsumen media.

Dan buku? Dari zaman kolonial sampai kini terus-menerus dihadapkan pada masalah klasik: segmen yang sangat kecil, dengan Jawa (plus Madura) dan Sumatra sebagai pasar utama.

Eduard Kimman mencatat, pada zaman kemerdekaan tahun 1930-an, menurut sensus 1930, terdapat 14,8 penduduk melek huruf di Nusantara. Meski demikian, budaya membaca sangat tinggi waktu itu. Pulau Jawa dan Madura tercatat paling banyak jumlah taman bacaannya yang diprakarsai oleh Balai Pustaka.

Sebagai contoh, tahun 1925 terdapat 2.200 taman pustaka yang buku-bukunya diterbitkan dalam berbahasa Melayu. Selain itu, terdapat 400 perpustakaan serupa yang tidak diprakarsai Balai Pustaka, yang menyediakan buku.

Itu berarti, pada tahun 1925, terdapat 2.600 perpustakaan, dan data buku yang dipinjam sekitar 1,9 juta setahun. Tahun 1930 meningkat menjadi 3.000 perpustakaan, dengan peminjam per tahun 2,7 buku. Itulah cikal bakal masyarakat perbukuan, yang terus berkembang hingga kini.

Diambil dari:

Nama : Matabaca, Juni 2005
majalah
Penulis : R. Masri Sareb Putra (penulis lepas,
pembaca dan pecinta buku)
Penerbit : PT. Gramedia, Jakarta
Halaman : 15 -- 16

Komentar