Apakah Kasih Kristiani itu? | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Apakah Kasih Kristiani itu?


Kategori: Kesaksian Pembaca

Ditulis oleh: Yanti

Ketika banyak orang membicarakan tentang kasih sayang, cinta, dan semua yang berhubungan dengan hal itu di bulan Pebruari ini, buku yang ditulis oleh Ken Wilson terbitan Gandum Mas ini menarik perhatian saya. Judulnya memancing keingintahuan saya apakah kasih yang selama ini saya terapkan sebagai orang Kristen benar-benar kasih kristiani seperti yang diajarkan oleh Yesus.

Seperti yang dijelaskan juga dalam buku ini bahwa inti kekristenan adalah kasih. Tapi dalam praktiknya ternyata ada hal-hal tentang kasih yang selama ini telah salah saya aplikasikan. Di dalam buku ini disebutkan bahwa kasih kristiani adalah kasih yang didasarkan pada pelayanan, mementingkan atau mendahulukan orang lain. Sebenarnya saya juga tahu akan hal ini. Tetapi hal pelayanan dan mendahulukan kepentingan orang lain tersebut tidak bisa disamakan dengan "tidak pernah menolak" keinginan orang lain. Selama ini saya merasa bahwa dengan selalu mengiyakan keinginan orang lain itu sebagai bukti kalau saya mengasihinya. Melalui buku ini saya tahu kalau hal itu tidaklah benar. Kadangkala kebenaran meminta kita untuk memberi tanggapan yang kurang menyenangkan kepada orang lain. Kasih Tuhan Yesus memang tidak suka bertengkar, tetapi Yesus juga tidak takut untuk menentang. Jadi ada saatnya kita patut menunjukkan kemarahan atau menentang orang lain kalau hal tersebut bertentangan dengan kebenaran. Jadi jika saya selalu berusaha keras untuk menjadi orang yang baik hati dengan menghindari marah dan konfrontasi padahal seharusnya saya menegur atau menolak karena bertentangan dengan kebenaran, itu sama saja saya telah gagal mengasihi.

Dari buku ini saya juga belajar bahwa perasaan bukan suatu keharusan dalam kasih, walaupun perasaan ikut berperan dalam hal mengasihi. Karena dasar kasih kristiani adalah ikatan janji dan bukan perasaan. Kalau dasar yang dipakai untuk mengasihi adalah perasaan, maka yang akan terjadi ketika perasaan kita negatif adalah kita akan kesulitan untuk mengasihi. Satu hal lagi yang saya dapat dari buku ini, kasih itu tanpa syarat, sama seperti kasih Allah kepada manusia yang tidak bersyarat. Tanpa saya sadari, ketika saya mengasihi orang lain saya telah menetapkan syarat-syarat, sebagai contoh saya mengasihi orang ketika itu menguntungkan buat saya. Jadi saya mengasihi ketika saya juga mendapatkan balasan berupa kasih dari orang yang saya kasihi tersebut. Bentuk kasih seperti itu adalah kasih yang menyimpang dari kasih kristiani.

Kalau saya renungkan lagi tentang apa yang disampaikan dalam buku ini, sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan saya merasa bahwa saya mungkin tidak akan mampu untuk menerapkan kasih kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sekali lagi saya patut bersyukur kepada-Nya, meskipun saya tidak dapat menghasilkan kasih tetapi roh Allah yang ada pada diri saya memperlengkapi dengan rasa kasih sehingga pada akhirnya saya bisa mengasihi orang lain dengan kasih kristiani.

Sumber : Pub. e-Buku edisi 04

Komentar