Remuknya Insan dan Keluarnya Roh | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Remuknya Insan dan Keluarnya Roh


Kategori: Kesaksian Pembaca

Ditulis oleh: Tanie Maria S.

Membaca buku adalah salah satu hobi saya. Sudah cukup banyak buku yang dipakai Tuhan sebagai sarana untuk berbicara kepada saya secara pribadi. Berbeda dengan mendengarkan khotbah, buku memberikan banyak keleluasaan untuk merenungkan setiap kata yang dituliskan. Buku juga memberi waktu bagi pembacanya untuk dapat berhenti sewaktu-waktu untuk merenungkan, menyerap maknanya, berdoa dan berbicara kepada Tuhan saat sebuah kalimat menghujam ke lubuk hatinya yang paling dalam.

Salah satu buku yang "berbicara" banyak kepada pribadi saya sampai hari ini adalah buku karya Watchman Nee berjudul "Remuknya Insan dan Keluarnya Roh" (diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil, Surabaya). Jarang saya menjumpai tulisan dalam sebuah buku yang bisa menggemakan Firman Tuhan secara terus menerus seperti yang saya temui dalam buku ini. Buku "kuno" setebal 181 halaman ini semula tidak terlalu menarik bagi saya. Melihat cover dan judulnya yang kurang atraktif membuat saya menunda pembacaan buku ini cukup lama.

Berbeda dari kebanyakan buku Kristen populer yang diminati orang pada umumnya, "Remuknya Insan dan Keluarnya Roh" sama sekali tidak menawarkan jalan yang mudah untuk menjadi orang Kristen yang sejati. Tidak ada tips-tips mudah untuk menjalankan Firman Tuhan. Tidak ada iming-iming pengalaman supranatural yang spektakuler dalam menjalani kehidupan rohani. Yang saya temukan adalah kejujuran penulis untuk memaparkan bahwa kedagingan kita justru akan banyak mengalami tantangan berat jika kita benar-benar menginginkan Kristus bekerja leluasa dalam hidup kita. Semua perkara yang tidak menyenangkan diri kita justru telah siap menanti di depan mata.

Buku ini membukakan kebenaran tentang keberadaan insan lahiriah dan insan batiniah dalam diri setiap manusia. Bagaimana Allah dengan sengaja meremukkan insan lahiriah anak-anak-Nya agar Dia bisa berkarya secara leluasa dalam diri mereka. Sebagaimana Allah bisa berkarya dalam insan jasmaniah Kristus secara total, Dia pun menghendaki hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Ibarat biji yang harus jatuh ke dalam tanah dan mati, insan jiwani kita yang selalu semaunya sendiri harus diproses melalui penderitaan dan keadaan yang tidak menyenangkan, agar mati dan akhirnya hidup berbuah lebat. Semakin kita menyayangi diri, semakin sulit kita bisa dipakai oleh- Nya.

Setelah memahami bahwa insan jasmaniah perlu diremukkan, selanjutnya pembaca diajak untuk melihat ke dalam diri mereka yang masih mentah dan campur aduk. Melihat bagaimana Tuhan ingin memisahkan keinginan dan niat hati kita yang campur aduk itu menjadi murni. Bagi saya yang sudah merasa telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, yang telah mengira bahwa selama ini keinginan hati saya tulus untuk Tuhan, pada bab-bab berikutnya sungguh mencelikkan mata rohani saya yang buta. Ternyata sebelum insan jasmaniah kita diremukkan oleh Tuhan, kita tidak pernah akan bisa membedakan pikiran dan niat hati kita. Barulah setelah "dihabiskan" oleh Tuhan, kita bisa berlutut di hadapannya mengakui bahwa "aku bukanlah siapa-siapa tanpa Kristus berkarya di dalam diriku".

Akhirnya saya mengerti, penundaan membaca buku ini sebenarnya justru memiliki makna tersendiri bagi saya. Saat membeli buku ini saya masih belum mengalami proses hidup yang begitu menyakitkan. Ketika akhirnya saya mengalami hal yang sangat tidak menyenangkan dalam hidup, secara "kebetulan" saya jadi berniat membaca buku ini. Melalui buku inilah saya sedikit demi sedikit mulai mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup saya. Sebelumnya saya tidak pernah menyadari bahwa Tuhan menakar setiap peristiwa yang tidak adil ini dengan komposisi yang sangat pas bagi hidup saya. Proses peremukan yang Dia kerjakan begitu indah. Sebelum mengalami semua hal yang tidak menyenangkan, saya tentu tidak akan pernah bisa dipakai untuk maksud dan kehendak-Nya. Sejak itulah penderitaan yang Dia izinkan terjadi, justru berubah nilainya di mata saya. Lewat buku ini, pengenalan saya akan Dia semakin diperkaya.

Usai membaca buku ini, kita akan tertantang untuk memberikan respon secara pribadi kepada Tuhan. Relakah kita mengalami proses peremukan insan jasmaniah selama hidup ini agar Roh-Nya leluasa berkarya dalam hidup kita menjamah setiap orang yang kita temui setiap hari.

Saya sungguh bersyukur Tuhan telah berbicara kepada saya melalui buku ini. Masih banyak lagi hal yang saya dapatkan dari-Nya, yang akan terlalu banyak untuk dituliskan disini. Namun melalui kesaksian ini, saya merekomendasikan buku ini untuk Anda baca. Kiranya Tuhan sendirilah yang akan membukakan lebih banyak lagi rahasia Firman-Nya dalam kehidupan Anda.

Komentar